Selasa, 22 Agustus 2017

Pilgub Jatim 2018

Gus Ipul Sukses 'Sandera' Khofifah

Rabu, 09 Agustus 2017 09:17:08 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Gus Ipul Sukses 'Sandera' Khofifah

Surabaya (beritajatim.com) - Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menjadi kandidat pertama yang mendaftar sebagai bacagub dalam proses penjaringan bacagub-bacawagub di Partai Golkar Jatim yang mulai dibuka Senin (7/8/2017) lalu.

Gus Ipul mendaftar di hari pertama, mendahului Mensos Khofifah Indar Parawansa dan kandidat lainnya. Padahal, sebelumnya ada pengurus DPD Partai Golkar Jatim menyatakan bahwa Khofifah yang akan mendaftar di hari pertama pembukaan.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar W Oetomo menilai bahwa hal ini adalah kelanjutan episode 'penyanderaan' Gus Ipul terhadap Khofifah, setelah sebelumnya Gus Ipul juga mendahului proses pendaftaran di PDIP dan Demokrat.

"Sepertinya Gus Ipul sadar betul, jika Khofifah cenderung tidak mau mendaftar melalui partai di mana dia juga mendaftar. Maka begitu Golkar membuka pendaftaran Gus Ipul sengaja mendahului, agar Khofifah kembali kehilangan momentum untuk mendaftar. Gus Ipul berhasil menerapkan politik 'sandera', untuk meminimalisir kemungkinan Khofifah mendapatkan tiket dari partai," katanya.

Hal ini lanjut Mochtar, membuat dinamika politik menjelang pilgub di Jatim seperti mengalami mengalami kebuntuan atau jalan di tempat. Partai politik seolah tersandera dengan dua nama yang mesti diusung di pilgub 2018, yakni Gus Ipul atau Khofifah.

Direktur Surabaya Survey Center (SSC) ini menyebut Gus Ipul dan Khofifah menjadi 'kiblat' partai politik dan seolah-olah menenggelamkan kandidat yang lain. Bahkan parpol-parpol hingga hari ini masih terus menunggu kepastian Khofifah.

Parpol yang membuka pendaftaran (PDIP, Demokrat, Hanura dan Golkar) berharap Khofifah mendaftar melalui partainya. Namun kenyataannya Khofifah hingga saat ini belum menyatakan sikap dengan dua kata saktinya, yakni  check sound dan menyamakan frekuensi.

Bungkamnya Khofifah dan strategi PDIP yang kerapkali memutuskan kandidat yang diusung pada last minute, membuat pilgub Jatim menjadi monoton, berputar-putar, saling sandera dan jalan di tempat.

Mochtar berpendapat agar pilgub Jatim berjalan tidak monoton, harus ada yang berani deklarasi sebagai calon independen. Dalam perhelatan pilgub Jatim 2013 lalu, ada satu calon perseorangan yakni Eggi Sudjana. Kehadirannya bisa memecah kebuntuan politik yang saat itu tengah dialami parpol. Walhasil, empat pasang calon pun muncul dan berhadap-hadapan. 

"Dalam kondisi sekarang, calon perseorangan di Jatim sudah waktunya muncul. Kehadiran calon independen akan memecah kebuntuan. Dinamikanya akan segera mencair begitu ada yang berani deklarasi sebagai calon independen. Karena partai pasti juga akan segera menentukan sikapnya," tuturnya.

Terlepas dari calon independen nantinya diusung Parpol seperti yang terjadi pada Ahok, kata Mochtar, urusan belakangan. Yang jelas calon independen dapat memecah kebuntuan pilgub Jatim yang selalu melibatkan dua nama yakni Khofifah dan Gus Ipul.

Menurut Mochtar untuk melihat siapa saja calon-calon yang layak maju jalur perseorangan sebenarnya mudah. Sebut saja nama La Nyalla Mattalitti. Dia dinilai memiliki jaringan kuat dan mobilisasi tinggi. Dia sebagai Ketua Umum Kadin Jatim, pernah menjabat Ketua Umum PSSI dan masih aktif sebagai Ketua umum MPW Pemuda Pancasila, tentu modal ini sudah cukup kuat bagi La Nyalla untuk maju sebagai calon perseorangan.

Selain itu ada nama anggota DPR RI dan mantan Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin. Jika maju lewat jalur perseorangan sangat terbuka. Sebab, Partai Nasdem tempatnya bernaung hanya memiliki empat kursi di DPRD Jatim. Kekuatan Hasan Aminuddin untuk maju sebagai calon perseorangan terbuka.

"Asal Hasan pasangannya berasal dari wilayah Mataraman dan dari kelompok nasionalis baik dari tokoh politik atau tokoh kultural, mengingat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap parpol saat ini mulai menurun," imbuhnya.

Ada juga nama Nurwiyatno, Inspektur Provinsi Jatim, yang dengan jaringan GMNI dan birokrasinya sangat mungkin memobilisasi dukungan untuk maju dari jalur perseorangan.

"Lalu, ada nama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang memiliki kans besar maju lewat jalur perseorangan. Anas selama ini dikenal tokoh muda Nahdlatul Ulama di Banyuwangi dan memiliki basis kekuatan dari para ulama dan simpatisan Nahdlatul Ulama di Banyuwangi. Juga ada nama Emil Dardak, Bupati Trenggalek yang akhir-akhir ini memiliki potensi menjadi media darling," pungkasnya. [tok/suf]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>