Senin, 23 Oktober 2017

Program Jemput Bola Rawat Warga di Banyuwangi, Terobosan Apalagi?

Sabtu, 15 Juli 2017 07:15:44 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Program Jemput Bola Rawat Warga di Banyuwangi, Terobosan Apalagi?
Bupati Abdullah Azwar Anas menjengut warganya yang sakit di rumahnya. [Foto: rindi/bj.com]

Banyuwangi (beritajatim.com)--Sebanyak 1.641 warga yang sakit telah dilayani maksimal oleh petugas kesehatan di masing-masing daerah.

Ribuan orang tersebut mendapat pelayanan khusus dalam program Jemput Bola Rawat Warga.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, dalam program tersebut, tenaga medis datang ke rumah warga yang sakit, terutama dari golongan kurang mampu. Jadi warga tidak perlu datang ke Puskesmas atau rumah sakit, karena petugas kesehatan yang datang ke rumah warga.

”Tentu yang dirawat adalah warga yang penyakitnya memang bisa dirawat jalan. Kalau yang harus rawat inap, ya dirawat inap,” ujar Anas.

Menurut Anas, upaya jemput bola pasien ini adalah pemenuhan hak dasar warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Selama ini, masih ada warga miskin yang belum mendapat informasi mengenai layanan kesehatan.

"Meski berobat dengan BPJS atau fasilitasi jaminan kesehatan daerah tidak berbayar, warga miskin dan lansia terkadang kesulitan karena mengeluarkan biaya transportasi. Maka petugas yang harus jemput bola," jelas Anas.

Anas menjelaskan, sasaran jemput bola ini berasal dari basis data Pemkab Banyuwangi, laporan warga di media sosial, dan pendataan desa. Dia meminta penguatan koordinasi mulai RT/RW, desa, hingga Dinas Kesehatan, mengingat data kesehatan bersifat dinamis.

"Misalnya Bapak A yang termasuk miskin ini sehat, tapi sebulan kemudian sakit, itu harus dipantau. Kuncinya pada koordinasi, kepedulian mulai dari RT/RW. Toh biaya kesehatan sudah disediakan, ada penerima bantuan iuran APBN, ada dana jaminan kesehatan dari APBD. Begitu tahu ada yang sakit, lapor dan pasti ditangani," terang Anas.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono menambahkan, program ini melibatkan 2.700 tenaga kesehatan di 45 Puskesmas yang menjangkau 25 kecamatan, 189 desa, dan 25 kelurahan.

Periode Januari-Juli 2017, program ini merawat 1.641 warga yang sakit di rumahnya. ”Sesuai instruksi Bupati Anas, program ini juga menjadi indikator kinerja aparat kesehatan. Evaluasi kinerja saya, kepala rumah sakit, kepala puskesmas, ditentukan antara lain dari respons penanganan warga miskin sakit. Jika tidak responsif, jadi catatan yang mempengaruhi promosi bagi aparat bidang kesehatan,” terang dr Rio. [air/rin]

Komentar

?>