Jum'at, 24 Nopember 2017

Pilgub Jatim 2018

Jika Cagub dari NU, Cawagub Sebaiknya dari....

Rabu, 12 Juli 2017 18:20:56 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Jika Cagub dari NU, Cawagub Sebaiknya dari....

Surabaya (beritajatim.com) - Hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) mencatat ada lima nama kandidat atau calon gubernur yang dipilih secara spontan melalui pertanyaan terbuka (top of mind).

Mereka adalah Saifullah Yusuf (Gus Ipul) 26,30 persen, Tri Rismaharini 22,10 persen, Khofifah Indar Parawansa 13,90 persen, Abdullah Azwar Anas 3,50 persen, La Nyalla Mahmud Mattalitti 2,30 persen dan lainnya 2,50 persen. Mereka yang tidak tahu atau tidak menjawab 28 persen.

"Menurut pendapat publik Jatim, jika cagub Jatim dari kalangan NU, maka seyogyanya cawagubnya dari kalangan politisi
terutama dari kalangan nasionalis. Sebanyak 24,40 persen publik Jatim setidaknya berpendapat demikian," papar Direktur SSC Mochtar W Oetomo kepada wartawan di Hotel Yello Surabaya, Rabu (12/7/2017)

Cawagub dari nasionalis lebih diharapkan publik dibandingkan hanya 16,90 persen publik yang menginginkan cawagubnya juga dari NU dan hanya 11,40 persen yang berpendapat cagub seharusnya dari kalangan Muhammadiyah. Cawagub dari kalangan pengusaha diharapkan 8,90 persen, birokrat 5,90 persen, artis 0,40 persen dan tidak menjawab 32,10 persen.

Sementara kandidat cawagub yang memiliki elektabilitas paling tinggi adalah Abdullah Azwar Anas 12,90 persen. Disusul nama Kusnadi 7,50 persen, La Nyalla Mahmud Mattalitti 7,40 persen, Anang Hermansyah 6,90 persen dan Abdul Halim Iskandar 6 persen.

Sementara nama lainnya juga muncul sebagai kandidat cawagub di bawah 6 persen, yakni Imam Nahrawi, Nurhayati Assegaf, Masfuk, Emil Dardak, Eddy Rumpoko, Suyoto, Rendra Kresna, Said Abdullah, Hasan Aminuddin, Budi 'Kanang' Sulistyono, Supriyatno, Anwar Sadad, Anton Setiadji, Musyafak Noer, Wahid Wahyudi dan Renville Antonio.

Berdasarkan hasil survei, angka swing voters, pemilih yang masih mungkin berubah pun cukup tinggi yakni mencapai angka 48,40 persen. Sementara angka undecided voters (belum menentukan pilihan) juga masih sekitar 28 persen. Ini mengindikasikan bahwa pilihan publik masih cukup cair dan dinamis, memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan karena berbagai faktor.

Faktor kinerja, rekam jejak dan program kerja menjadi faktor penting yang bisa merubah pilihan publik. Sebagian besar publik mengatakan akan lebih mantap pilihannya jika melihat kandidat sering muncul di televisi dan akan lebih mantap lagi jika bisa bertemu langsung dengan kandidat.

Publik juga berpendapat bawa media massa terutama televisi, koran dan media online cukup berpengaruh bagi mereka dalam menentukan pilihan. Di samping itu publik Jatim juga mengakui bahwa media sosial juga memiliki peran penting dalam menentukan pilihan mereka, terutama informasi kandidat yang disampaikan oleh teman, keluarga dan tetangga melalui group WA dan Facebook.

Dalam menentukan pilihan, lanjut dia, sebagian besar publik berkeyakinan bahwa mereka cukup mandiri dalam menentukan pilihan (30,30 persen), disusul karena pengaruh kiai atau tokoh agama yang mereka hormati sebesar 20,90 persen.

Kinerja atau karya nyata (35,80 persen), latar belakang agama (18,90 persen) dan visi misi serta program kerja kandidat (16,80 persen), menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihannya.

"Temuan survei ini juga menunjukkan, toleransi terhadap politik uang di Jatim cukup tinggi, yakni mencapai 56 persen. Meskipun efektivitasnya hanya mencapai 10 persen," pungkasnya. (tok/kun)

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>