Kamis, 22 Juni 2017

Akhir Tahun, Luas Lahan Organik Banyuwangi Mencapai 100 Hektar

Rabu, 26 April 2017 13:57:19 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Akhir Tahun, Luas Lahan Organik Banyuwangi Mencapai 100 Hektar

Banyuwangi (beritajatim.com) - Pengembangan lahan sawah organik di Banyuwangi terus mengalami peningkatan yang cukup seginifikan. Saat ini lahan organik yang telah memiliki sertifikasi seluas 42 hektar.

Ketua Kelompok Tani Mendo Sampurno, Samanhudi mengatakan pengembangan lahan organik telah menyebar di 7 kecamatan di Banyuwangi. Meliputi, Kalibaru, Glenmore, Sempu, Genteng,Singojuruh, Songgon, Kabat dan Licin.

"Sampai akhir tahun kemungkinan akan mencapai 100 hektar lahan yang telah organik. Tapi menunggu sertifikasinya. Saat ini masih dalam tahap panen dan beberapa dalam masa konfersi," jelas Samanhudi, Rabu (26/4/2017).

Setiap hektar, kata Saman, kini produksi panen padi organik juga telah meningkat. Hasil panen mencapai 7-9 ton.

"Ada jenis padi merah, putih dan hitam yang kita kembangkan," terangnya.

Bahkan, hasil itu kini tak hanya dinikmati oleh warga lokal Banyuwangi. Melainkan telah merambah pasar ekspor ke beberapa negara. Di antaranya, Australia, China, Amerika hingga Belanda.

"Per tahun, total ekspor dikisaran 400 ton atau dalam setiap bulan mencapai 25 ton. Namun, kami masih membatasi ekspor lantaran produksi masih kurang," ujarnya.

Tak hanya sebagai penghasil padi organik, tapi Kelompok Tani ini juga memproduksi beberapa jenis bibit padi organik. Di antaranya 20 jenis padi organik lokal itu dibagi  16 beras merah dan 4 jenis beras hitam.

"Nama padi itu diberi nama lokal Banyuwangi di antaranya, Kaliweni, Kalibaru, Watudodol, dan Watukebo dan padi A3," katanya.

Sejauh ini, lanjut Saman, telah mengembangkan jenis padi organik lokal melalui plasma nutfah. Hasil produksi dari persilangan jenis padi lokal itu tergantung berdasar ketinggian.  Metode pengembangan yang digunakan yakni dengan System of Rice Intensification (SRI).

"Terbukti dengan sistem organik hasil yang diperoleh cukup memuaskan. Harga beras putih organik Rp 17500 ribu perkilo, dan beras merah organik Rp 25 ribu perkilogram," katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah mengatakan, pihaknya terus berupaya mengembangkan lahan organik. Selain untuk ketahanan pangan dan inflasi, ini juga sebagai bentuk pengembalian produktivitas tanah.

"Ada dua, pertama untuk pengendalian pangan dan inflasi, kedua mengembalikan tanah agar dapat menjadi warisan generasi mendatang," pungkasnya. (rin/ted)

Komentar

?>