Sabtu, 18 Nopember 2017

Satpol PP Kota Mojokerto Amankan Anak Punk

Kamis, 20 April 2017 19:39:27 WIB
Reporter : Misti P.
Satpol PP Kota Mojokerto Amankan Anak Punk

Mojokerto (beritajatim.com) - Sebanyak 23 anak punk dan sejumlah suporter bola diamankan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mojokerto, Kamis (20/4/2017).
Mereka dibina dengan diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Puluhan anak punk tersebut diminta baris-berbaris di halaman Satpol PP Kota Mojokerto di Jalan Bhayangkara.

Tak hanya baris-berbaris, mereka juga diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Tak jarang, beberapa dari mereka yang mayoritas Anak Baru Gede (ABG) tak hafal sehingga harus mengulang.

Dari 23 anak punk tersebut, tujuh diantaranya perempuan dan lima diantaranya merupakan suporter bola. Karena kelimanya menggunakan kaos dan asesoris klub.

Sebanyak 23 anak punk diamankan dari beberapa lokasi di wilayah Kota Mojokerto, diantaranya di perempatan Gajah Mada, Mojopahit dan Sekar Putih.

Penyidik Satpol PP Kota Mojokerto, Heri Subagyo mengatakan, kegiatan tersebut dalam rangka penertiban.

"Dan himbauan Pak Wali  tentang wajib belajar, kita tidak menginginkan di Kota Mojokerto bekeliaran anak usia sekolah yang seolah-olah kita tidak melakukan tindakan tegas," ungkapnya.

Sebanyak 23 anak punk tersebut berasal dari luar kota seperti, Probolinggo, Pasuruan, Kediri dan Ponorogo. Mereka dilakukan pembinaan dengan tujuan agar jera dan tidak mengulanginya lagi. Yakni dengan baris berbaris, menyanyikan lagu Indonesia Raya, membuat surat pernyataan dan mengucapkan tidak akan mengulangi lagi.

"Ini sesuai dengan Perda Nomor 12 Tahun 2015 tentang Penyelenggaran Ketertiban Umum. Mereka kita amankan dan diberikan pembinaan karena meminta di jalan, ada indikasi penjarahan di warung, minum-minum sehingga menimbulkan dampak di masyarakat. Namun belum sampai saat ini, tidak ada laporan terkait kriminalitas," katanya.

Heri menambahkan, dari 23 anak punk tersebut diamankan sejumlah barang bukti diantaranya tiga senjata tajam (sajam), handphone, alat pukul dan kalung.

Dari pengakuan anak punk, mereka hendak mendukung Persebaya Surabaya menjamu Madiun Putra di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya namun kehabisan uang.

Sementara itu, Plt Kepala Satpol PP Kota Mojokerto, Mashudi menambahkan, kegiatan tersebut rutin digelar. "Setiap ada pelanggaran akan dilakukan penertiban, tidak harus saat razia saja. Mereka kita berikan pembinaan dan diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Rata-rata tidak bawa membawa identitas," ujarnya.

Salah satu suporter, Fikri (15) mengaku berasal dari Ponorogo. Dia bersama empat temannya hendak ke Surabaya mendukung Persebaya Surabaya, namun kehabisan uang.

"Tadi itu, di perempatan mau cari makan tiba-tiba dibawa kesini. Saya tidak ngamen tapi memang bawa alat musik, mau ke Surabaya tapi kehabisan uang," akuinya.

Menurutnya, ia berangkat dari Ponorogo bersama dengan empat temannya yang rata-rata masih berstatus pelajar tersebut hanya membawa uang Rp70 ribu. Uang tersebut hanya cukup membeli tiket bis dan makan tapi kurang untuk membeli tiket masuk Stadion Gelora Bung Tomo sehingga diputuskan pulang.[tin/ted]

Komentar

?>