Kamis, 27 Juli 2017

Membaca Ulang Sidang Konstituante (2)

Kasman Singodimedjo Bantah Tudingan Njoto tentang Logika

Minggu, 16 April 2017 16:15:27 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Kasman Singodimedjo Bantah Tudingan Njoto tentang Logika
Dekrit Presiden yang menandai pembubaran Konstituante. (Foto: 30 Tahun Indonesia Merdeka)

Surabaya (beritajatim.com) - Belajar sejarah membuat hidup manusia lebih dewasa. Semanis atau sepahit apapun nilai peristiwa dalam sejarah, fakta itu tidak untuk diabaikan. Sebaliknya, sejarah dipetik untuk dipelajari.

Berikut salah satu penggalan sejarah dari sidang di Konstituante, lembaga negara Indonesia yang ditugaskan untuk membentuk Undang-Undang Dasar atau konstitusi baru untuk menggantikan UUDS 1950. Penggalan ini diuraikan ulang sebatas rangsangan berpikir. Agar pemikiran lebih mendalam, silakan menggali kembali kepada data-data yang lebih luas.

Hari Rabu (12 November 1957), Mr RH Kasman Singodimedjo dari Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi menyampaikan pidato tentang dasar negara. Mr Kasman sempat menyinggung tudingan Njoto, seorang tokoh Partai Komunis Indonesia, terhadap dirinya.

"Saudara Ketua, sepintas lalu telah terbukti bahwa justru logika Saudara Njoto itulah yang tidak logis. Feelingnya tidak begitu halus, hal itu disebabkan karena tentunya pandangan hidupnya lain sekali dengan falsafah saya," kata Mr Kasman.

Tokoh politik asal daerah pemilihan Jawa Barat ini sebelumnya menuturkan bahwa dia dituding Njoto tidak menerangkan hubungan pemimpin negara dengan dasar negara secara logis. Itu sebabnya, dia membantahkan. Tidak hanya membantah, justru sebaliknya, dia balik menuding pemikiran Njoto yang gagal memenuhi unsur logika.

"Saudara Ketua, mengenai logika, saya meninjau si Pemimpin Indonesia itu dari sudut 'kewajiban', yakni si Pemimpin itu sebagai Pemimpin Indonesia di dalam ia memimpin rakyat Indonesia wajib 'seharusnya' -minimal memperhatikan Islam. Sebab Saudara Ketua, sebabnya ialah karena rakyat Indonesia yang ia pimpin itu adalah berjumlah besar -lebih dari 85 persen- umat Islam, sehingga way of life and way of thingking dari rakyat itu sungguh-sungguh dipengaruhi oleh Islam, apa pendapat saya ini salah?," kata Mr Kasman.

Sebaliknya, Mr Kasman menilai bahwa Njoto mendasarkan pemikiran pada sudut yang berbeda. "Dalam pada itu Saudara Ketua, berlainan dengan tinjauan saya maka Saudara Njoto meninjaunya itu dari sudut 'hak', dari sudut 'kehendak' atau tuntutan perjuangan," tandas Mr Kasman.

Itulah salah satu penggalan pemikiran dari adu argumentasi tentang dasar negara Indonesia di sidang Konstituante. Sekadar diketahui, Konstituante beranggotakan 550 orang berdasarkan hasil Pemilu 1955. Sidang Konstituante berakhir buntu lantas banyak anggota Konstituante tidak mau menghadiri sidang. Konstituante akhirnya dibubarkan Presiden Soekarno melalui Dekrit 5 Juli 1959, sekaligus menandai kembali berlakunya UUD 1945. [but]

Sumber tulisan: Buku ‘Konstituante Republik Indonesia, Risalah Perundingan Tahun 1957, jilid 5’, penerbit Masa Baru, Bandung, tahun 1957.

Tag : konstituante

Komentar

?>