Jum'at, 23 Juni 2017

Membaca Ulang Sidang Konstituante (1)

Masyumi Tak Percaya Argumen PKI tentang Pancasila

Minggu, 16 April 2017 16:05:33 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Masyumi Tak Percaya Argumen PKI tentang Pancasila
Dekrit Presiden yang menandai pembubaran Konstituante. (Foto: 30 Tahun Indonesia Merdeka)

Surabaya (beritajatim.com) - Belajar sejarah membuat hidup manusia lebih dewasa. Semanis atau sepahit apapun nilai peristiwa dalam sejarah, fakta itu tidak untuk diabaikan. Sebaliknya, sejarah dipetik untuk dipelajari.

Berikut salah satu penggalan sejarah dari sidang di Konstituante, lembaga negara Indonesia yang ditugaskan untuk membentuk Undang-Undang Dasar atau konstitusi baru untuk menggantikan UUDS 1950. Penggalan ini diuraikan ulang sebatas rangsangan berpikir. Agar pemikiran lebih mendalam, silakan menggali kembali kepada data-data yang lebih luas.

Hari Rabu (12 November 1957), Mr RH Kasman Singodimedjo dari Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi menyampaikan pidato tentang dasar negara. Mr Kasman sempat menyinggung kebijakan Partai Komunis Indonesia yang memilih Pancasila sebagai dasar negara.

"Saudara Ketua, menurut Saudara Njoto, Partai Komunis Indonesia (PKI) menghendaki agar Pancasila tetap menjadi Dasar Negara kita. Ditekankan bahwa PKI tidak memperjuangkan Konstitusi Komunis atau Kontitusi proletar. Dan sebagai alasan ialah karena beberapa bulan yang lalu disini Sekretaris Jenderal PKI telah menerangkan bahwa PKI memperjuangkan kekuasaan dari 'seluruh rakyat Indonesia'," kata Mr Kasman.

Selanjutnya, Mr Kasman menguraikan bahwa pilihan PKI tersebut hanyalah alasan yang dicari-cari. Dia tidak percaya kalau PKI tidak memperjuangkan komunisme. Dan jika benar PKI tidak memperjuangkan komunisme, menurutnya, itu artinya PKI tidak konsekuen.

"Dan disamping itu PKI tidak konsekuen terhadap isme-nya sendiri, sehingga isme-nya ditinggalkan begitu saja, justru pada saat PKI kini sedang menghadapi persoalan yang sangat penting, yakni tegak-tidaknya bangunan Negara kita jang oleh Saudara Njoto sendiri dikatakan ditentukan oleh dasarnya," kata Mr Kasman.

Kebijakan PKI yang mendukung ideologi Pancasila dan meninggalkan ideologi komunis itu, menurut Mr Kasman, selain tidak konsekuen, juga merupakan tindakan yang tidak menghargai diri sendiri. Logikanya, jika diri sendiri saja tidak dihargai, maka bisa dibilang, PKI tidak pula menghargai pihak lain.

"Bagaimana PKI akan dapat menghargai kepada pendirian orang lain, apabila terhadap kepada pendirian dan isme-nya sendiri saja sudah tidak dapat menghargai," kata Mr Kasman.

Itulah salah satu penggalan pemikiran dari adu argumentasi tentang dasar negara Indonesia di sidang Konstituante. Sekadar diketahui, Konstituante beranggotakan 550 orang berdasarkan hasil Pemilu 1955. Sidang Konstiuante berakhir buntu lantas banyak anggota Konstituante tidak mau menghadiri sidang. Konstiuante akhirnya dibubarkan Presiden Soekarno melalui Dekrit 5 Juli 1959, sekaligus menandai kembali berlakunya UUD 1945. [but]

Sumber tulisan: Buku ‘Konstituante Republik Indonesia, Risalah Perundingan Tahun 1957, jilid 5’, penerbit Masa Baru, Bandung, tahun 1957.

Tag : konstituante

Komentar

?>