Selasa, 25 Juli 2017

Wawancara dengan Bupati Banyuwangi Azwar Anas (4)

Kepemimpinan Daerah One Man Show Bikin Dehidrasi

Jum'at, 07 April 2017 22:35:27 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Kepemimpinan Daerah One Man Show Bikin Dehidrasi

Jember (beritajatim.com) - Lima tahun pertama masa kepemimpinannya, Bupati Abdullah Azwar Anas praktis telah mengubah citra Kabupaten Banyuwangi dari urusan magik ke urusan pariwisata. Pariwisata dijadikan pengungkit perekonomian daerah.

Anas percaya, pariwisata bisa jadi mantera sakti di tengah situasi perekonomian yang tidak menguntungkan. "Kita lihat di Prancis, ketika growth (pertumbuhan ekonomi) zero. Tidak ada pertumbuhan ekonomi, yang tumbuh adalah wisatawan, maka devisa wisata begitu tinggi," katanya.

Anas mengunjungi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia di Kabupaten Jember, Kamis (6/4/2017). Di sela-sela kunjungannya itu, Anas menyempatkan diri melayani wawancara dengan sejumlah wartawan. Ditemani sepiring tahu krispi di sebuah kedai makan tepi Jalan Kalimantan, ia memaparkan beberapa konsep dan capaiannya selama ini, juga kecemasannnya. Berikut bagian keempat dari lima bagian petikan wawancaranya.

Wartawan: Sekarang bicara soal APBD. Kemarin saat daerah-daerah sekitar Banyuwangi terkena pemotongan dana alokasi umum (DAU), justru Banyuwangi tidak terkena. Tahun ini pemerintah pusat mengencangkan ikat pinggang. Kemungkinan tahun ini bisa saja terjadi pemotongan lagi. Bagaimana kiat Pemkab Banyuwangi menghadapi ini?

Anas: Ada ketentuan yang bisa diukur mulai perencanaan dan penyerapan, dan (tahun 2016) Banyuwangi dianggap baik sehingga tidak masuk. Bahkan kami dapat reward. Pengelolaan keuangan kami dianggap baik. Kami disupervisi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk mempercepat beberapa regulasi. Output outcome kami dianggap baik.

Saya cukup senang karena penilaian SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) kami cukup bagus. Di Indonesia, hanya ada satu kabupaten yang dapat nilai A. Banyuwangi dapat nilai A. Sekarang orang studi banding banyak sekali. Itu bukan hasil kerja saya, tapi kolektivitas. Mulai dari perencanaan, kami bisa memotong dari 4.222 program tinggal 1.600 program. Contoh, ada program yang punya target menciptakan lingkungan bersih. Tapi programnya seminar. Kalau seminar kan produknya kertas. Jadi ada banyak program yang tidak efisien kami potong.

Wartawan: Parameter program yang dipotong?

Anas: Parameternya harus efisien. Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi punya sistem dan mekanisme untuk mengukur program itu efisien atau tidak. 

Wartawan: Dengan begitu, bisa mengefisienkan anggaran berapa?

Anas: Hampir Rp 90 miliar. Outcome-nya ada. Inflasi kami terendah seluruh Jawa. Tanya Bank Indonesia. Peningkatan kami terukur, dan untuk membuat itu mengurus 14 ribu PNS bukan soal mudah. Nah, bagi kami, prioritasnya bagaimana membangun sistem, karena one man show itu pada waktunya akan membuat dehidrasi.

Wartawan: Dehidrasi bagaimana maksudnya?

Anas: Misal orang lari, kalau seribu meter dianggap seratus meter, dia tewas di jalan karena dehidrasi. Padahal kami ini kan lari estafet.

Wartawan: Bukan pelari sprinter?

Anas: Nah, sistem tadi. Dengan membangun sistem, kami akan bertahan lama. Ini kalau saya one man show, Banyuwangi tidak akan seperti sekarang ini. Saya akan capek. Saya mengontrol lurah dengan cepat cukup dengan grup WhatsApp. Ini efisien. Saya di Jakarta, mereka di Banyuwangi, semua jalan. [wir/ted]

Komentar

?>