Sabtu, 27 Mei 2017

Wawancara dengan Bupati Banyuwangi Azwar Anas (2)

Bupati Anas: Sampai Kiamat, Sepak Bola Tidak Bisa Mengalahkan Brasil

Jum'at, 07 April 2017 17:55:19 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Bupati Anas: Sampai Kiamat, Sepak Bola Tidak Bisa Mengalahkan Brasil
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas


Jember (beritajatim.com)
- Lima tahun pertama masa kepemimpinannya, Bupati Abdullah Azwar Anas praktis telah mengubah citra Kabupaten Banyuwangi dari urusan magik ke urusan pariwisata. Pariwisata dijadikan pengungkit perekonomian daerah.

Anas percaya, pariwisata bisa jadi mantera sakti di tengah situasi perekonomian yang tidak menguntungkan. "Kita lihat di Prancis, ketika growth (pertumbuhan ekonomi) zero. Tidak ada pertumbuhan ekonomi, yang tumbuh adalah wisatawan, maka devisa wisata begitu tinggi," katanya.

Anas mengunjungi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia di Kabupaten Jember, Kamis (6/4/2017).

Di sela-sela kunjungannya itu, Anas menyempatkan diri melayani wawancara dengan sejumlah wartawan. Ditemani sepiring tahu krispi di sebuah kedai makan tepi Jalan Kalimantan, ia memaparkan beberapa konsep dan capaiannya selama ini, juga kecemasannnya. Berikut bagian kedua dari lima bagian petikan wawancaranya.

Wartawan: Sejak kapan Anda menyiapkan penguatan Banyuwangi di bidang pariwisata?

Anas: Kami menyiapkan ini sejak tiga tahun lalu. Kita lihat begitu ada perubahan dunia seperti ini. Sebenarnya rumusnya pertumbuhan daerah itu kan tiga: spending government, investasi, konsumsi. Ini rumus dasarnya. Spending government APBD dan APBN. Kalau APBD dan APBN jalan, proyek-proyek akan mendorong pertumbuhan.

Tapi spending government kan terganggu sekarang. Presiden Jokowi akan mengencangkan ikat pinggang lagi. Berarti spending government harus hati-hati. Belum lagi kebijakan fiskal kita yang mendorong investasi mulai melambat, membuat semua nge-rem.

Kami memprediksi ini akan terjadi. Maka daerah yang tidak segera berinovasi, ini bisa inflasi dan proses produksi konsumsinya akan terganggu. Banyuwangi sejak awal kami dorong pariwisata. Industri sekarang mulai melambat.

Wartawan: Tapi pertumbuhannya masih lumayan bagus? (Menurut data Bank Indonesia, tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Banyuwangi memang turun dibandingkan 2015 dari 6,01 persen menjadi 5,65 persen. Namun tingkat pertumbuhannya masih lebih bagus daripada Kabupaten Jember (5,01 persen). Selain itu pada 2017, pertumbuhan Banyuwangi diperkirakan naik pesat lagi menjadi 6,12 persen, mengalahkan Lumajang, Situbondo, Bondowoso, dan Jember).

Anas: Oh ya, tapi tak sesuai dengan target kami. Maka pariwisata sejak awal kami rancang. Ternyata betul, sekarang terjadi. Sekarang hampir semua kabupaten promosi pariwisata. Tapi pariwisata yang tidak dirancang secara terukur, nanti spending promosinya terlalu tinggi dan orang yang masuk tidak signifikan.

Di Kabupaten Banyuwangi setiap enam bulan sekali ada survei kebijakan publik sektor pariwisata dengan lembaga independen. Kira-kira orang ke Banyuwangi, apa yang tidak puas dan apa yang kurang. Termasuk kami hitung ROI (Return of Investment)-nya.

Wartawan: Berapa ROI pariwisata di Banyuwangi?

Anas: ROI-nya 1.500 persen. Termasuk menghitung spending pemda menggelar ini, (ROI) kami 2.500 persen. Kami hitung biaya promosi, biaya festival, dan berapa uang yang beredar diakibatkan pariwisata di Banyuwangi. Kami hitung belanja (wisatawan) Rp 1,5 triliun, kalau satu orang 400 dollar.

Alhamdulillah, kami mendapatkan penghargaan UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism di Madrid. Bukan perorangan, tapi sistem. Inovasi kebijakan publik pariwisata Banyuwangi juara satu tingkat dunia, mengalahkan Puerto Rico, Kenya, dan Brasil. Kalau sepak bola sampai kiamat tidak bisa mengalahkan Brasil.

Jadi ada potensi lain yang bisa kami gerakkan. Bukan lagi orang tapi sistem. Kalau sistem biasanya lebih bisa bertahan lama. Siapapun yang memimpin, ini tetap akan berjalan. [wir/ted]

Komentar

?>