Jum'at, 28 Juli 2017

Wawancara dengan Bupati Banyuwangi Azwar Anas (1)

Kopi dan Dusun Coklat Iringi Dibukanya Penerbangan Jakarta-Banyuwangi

Jum'at, 07 April 2017 17:24:46 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Kopi dan Dusun Coklat Iringi Dibukanya Penerbangan Jakarta-Banyuwangi
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Jember (beritajatim.com) - Lima tahun pertama masa kepemimpinannya, Bupati Abdullah Azwar Anas praktis telah mengubah citra Kabupaten Banyuwangi dari urusan magik ke urusan pariwisata. Pariwisata dijadikan pengungkit perekonomian daerah.

Anas percaya, pariwisata bisa jadi mantera sakti di tengah situasi perekonomian yang tidak menguntungkan. "Kita lihat di Prancis, ketika growth (pertumbuhan ekonomi) zero. Tidak ada pertumbuhan ekonomi, yang tumbuh adalah wisatawan, maka devisa wisata begitu tinggi," katanya.

Anas mengunjungi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia di Kabupaten Jember, Kamis (6/4/2017). Di sela-sela kunjungannya itu, Anas menyempatkan diri melayani wawancara dengan sejumlah wartawan. Ditemani sepiring tahu krispi di sebuah kedai makan tepi Jalan Kalimantan, ia memaparkan beberapa konsep dan capaiannya selama ini, juga kecemasannnya. Berikut bagian pertama dari lima bagian petikan wawancaranya.

Wartawan: Hari ini Anda mengunjungi Puslitkoka Indonesia. Apa maksud kunjungan ini?

Anas: Sebenarnya kami sedang mengembangkan beberapa hortikultura alamiah di Banyuwangi. Kami mendorong yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kemarin yang sudah berkembang adalah jeruk di selatan.

Kopi sekarang tumbuh di Banyuwangi. Saya mendorong komunitas-komunitas ini tumbuh. Karena kalau edukasi tumbuh dari komunitas, ini cepat jalannya. Di Banyuwangi, komunitas kopi banyak sekali. Bahkan dia membangun edukasi bagaimana menggoreng kopi, menyangrai kopi. Komunitas kopi tumbuh di media sosial luar biasa. Kafe-kafe di Banyuwangi tumbuh bermunculan bersaing bagaimana rasa kopi yang nyaman, yang baik. Jadi bukan hanya soal packaging, tapi juga soal rasa.

Sekarang di kaki Gunung Ijen di Banyuwangi, tumbuh kafe-kafe baru, di sekitar Ijen shelter. Itu kopinya bukan dari Jakarta. Itu menggoreng sendiri, bagaimana membuat rasa yang nyaman.

Inisiatifnya selalu tidak saya mulai dari pemerintah daerah. Karena kalau negara hadir di banyak sektor, ini nanti fokus kami jadi agak luas. Begitu ini mulai tumbuh dan berkembang di masyarakat, kami ingin mendorong bagaimana pengembangan kopi di Banyuwangi ke depan lebih berkualitas dan lebih bagus.

Karena selama ini banyak kopi yang besar dikembangkan di perkebunan. Jadi bukan kopi rakyat. Kopi rakyat inilah yang ke depan kami dorong. Bukan hanya kopinya, tapi keterampilan menyiapkan kopi yang baik itu terus tumbuh. Seiring dengan terus tumbuhnya wisata di Banyuwangi, sekarang ini jadi kebutuhan.

Bayangkan dulu di Banyuwangi hanya 110 ribu wisatawan, sekarang 4,2 juta wisatawan yang datang ke Banyuwangi. Kami sedang menyiapkan langkah-langkah baru sebelum direct flight Jakarta-Banyuwangi. Kita sekarang siang malam menebalkan runway. Kalau direct flight Jakarta-Banyuwangi ini jalan, bayangkan tamu akan tambah berapa di Banyuwangi. Hotel-hotel kita dorong untuk segera jadi dan beroperasi sebelum lebaran.

Wartawan: Selain kopi, komoditas apalagi?  

Anas: Kami target bulan depan perkebunan di Banyuwangi ada 'Dusun Coklat' di daerah Glenmore. Ini karena produksi coklat Banyuwangi luar biasa, bahkan saat saya ketemu oranng di luar negeri, ternyata beli coklatnya di situ (di Glenmore). Pabriknya sejak zaman Belanda berdiri, tapi masyarakat tidak pernah minum coklatnya. Target kami bulan depan 'Dusun Coklat' sudah jadi, ada kafe coklat, masyarakat bisa ikut merasakan.

Wartawan: Bagaimana pengelolaannya?

Anas: Itu di area PTP (perusahaan perkebunan), dikelola PTP dan masyarakat.

Wartawan: Potensi coklat di sana berapa?

Anas: Saya sebut angka takut lupa, tapi potensi di sana cukup besar. Ini kami garap seiring tumbuhnya wisata.

Wartawan: Apa yang diharapkan dari Puslitkoka?

Anas: Puslitkoka ini kan profesional. Harapan saya bisa ikut mengembangkan beberapa kawasan kopi milik Perhutani dan perkebunan sesuai ketinggian di Banyuwangi. Yang penting ada pertumbuhan riil yang dikembangkan dari kopi di Banyuwangi. [wir/ted]

Komentar

?>