Rabu, 13 Desember 2017

Menag Ingatkan Sudut Pandang Kebudayaan dalam Beragama

Jangankan Nyetir Mobil, Wanita pun Boleh Jadi Hakim

Sabtu, 18 Maret 2017 22:02:34 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Jangankan Nyetir Mobil, Wanita pun Boleh Jadi Hakim

Surabaya (beritajatim.com) - Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin meminta agar umat Islam di Indonesia menggunakan sudut pandang pendekatan kebudayaan dalam melihat perbedaan pada pemahaman keagamaan. Itu karena setiap perbedaan memiliki latar belakang serta konteks masing-masing.

Dicontohkannya perbedaan pendapat dan sikap ulama dalam hal melindungi dan menjaga harkat-martabat kaum perempuan yang ada di Indonesia dengan seluruh negara belahan dunia.

Memang sama-sama sepakat bahwa perempuan harus dilindungi dan dijaga harkat dan martabatnya. Tetapi, antara satu daerah dengan daerah lain berbeda-beda dalam implimentasinya, karena masing-masing negara memiliki cara dan sikap berbeda dalam hal teknis penerapan perlindungan perempuan, sebagaimana terkandung dalam nilai dan ajaran Islam.

"Di sebagian negara Jazirah Arab, misalnya. Perempuan dilarang menyetir mobil. Jangan dilihat itu diskriminatif. Itu cara ulama di sana melindungi perempuan," kata Menag Lukman di sela prosesi wisuda ke 78 Program Doktor, Magister dan Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (18/3/2017).

Lain halnya dengan sikap mayoritas ulama di Indonesia. "Jangankan nyetir mobil, perempuan di Indonesia boleh jadi hakim, bahkan jadi hakim pengadilan agama. Sesuatu yang mungkin tidak terjadi di negara Arab. Itulah (cara) ulama-ulama kita dalam rangka menjaga derajat dan harkat perempuan," papar Lukman.

Perbedaan sikap ulama dalam mengimplimentasikan nilai Islam, menurutnya, semua itu didasarkan pada kearifan mereka melihat konteks kebudayaan di masing-masing daerah atau negara.

"Kalau di UINSA, wisudawan dan wisudawati perguruan tinggi Islam harus ikut merawat kearifan yang telah dilakukan oleh Sunan Ampel dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Karena itu, sarjana Muslim tidak hanya harus tinggi secara intellectual quotient, emotional quotient, dan spiritual quotient-nya. Saya akan tambahi, sarjana Muslim juga harus tinggi cultural quotient-nya. Harus memiliki kecerdasan kebudayaan," ungkap lukman.

Sementara itu, Rektor UINSA Prof Abdul A'la menambahkan, sarjana Muslim Indonesia selalu menebar toleransi. A'la juga meminta anak didiknya yang sudah lulus bisa bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat dan umat begitu terjun di dunia nyata.

"Anda sedikit dari yang bisa memperoleh pendidikan perguruan tinggi. Tolong Anda sebagai sarjana, jangan suka menjual hoax, jangan suka menyebar fitnah. Tapi juallah kualitas Anda," pesannya. [ito/but]

Tag : islam

Komentar

?>