Rabu, 23 Agustus 2017

Diskusi GKI dan Gusdurian

Demokrasi Dibajak Kelompok Intoleran

Sabtu, 11 Februari 2017 09:27:24 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Demokrasi Dibajak Kelompok Intoleran

Surabaya (beritajatim.com) - Tingginya eskalasi politik pilihan gubernur DKI, membuat beberapa elemen organisasi kemahasiswaan dan agama berdiskusi di kantor GKI Sinode Wilayah Jawa Timur, Surabaya, Jumat (10/2/2017) malam.

"Melihat proses demokrasi di negeri ini yang dibajak oleh kelompok intoleran, dari demo 411 dan 212, serta aksi protes lainnya, menjadikan gerakan harmonis sosial berjalan alot," papar Andreas Kristianto yang aktif di gerakan lintas agama dan oikumene, dalam rilisnya kepada beritajatim.com.
 
Andreas mengungkapkan, budaya nasionalisme yang menjadi perekat persaudaraan, hanya sebatas kontruksi politis, bersifat memaksa dan bukannya partisipatif dan emasipatif. Bahkan, pasca reformasi, tingkat penggumpalan kekerasan, tidak semakin surut, tetapi semakit meningkat. Terlebih negara melakukan pembiaran terhadap praktik-praktik diskriminasi tersebut.
 
Pdt Simon Filantropa menambahkan, "Kebencian selalu kita reproduksi melalui media-media kita, bahkan yang lebih parah, kita juga ikut terlibat di dalamnya, dengan hatespech yang tidak menyejukkan harmoni persaudaraan kita".
 
"Melihat kiprah Gus Dur, saya belajar bagaimana beliau memperjuangkan kemanusiaan dan orang-orang yang tertindas," ungkap Iqbal yang penjadi penggerak Jaringan GUSDURian Surabaya. "Hanya dengan cara terkoneksi dalam persaudaraan, terlibat dalam komunitas dan menjadi inisiator perdamaian, ini adalah cara bagaimana merawat harmoni sosial," tutur Iqbal.
 
Stenly Jemparut, Ketua PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) menyerukan bahwa perdamaian bisa dilakukan secara alami. "Pengalaman saya di Flores menunjukkan bahwa harmonis sosial berjalan secara alami. Rumah kami di sana, tidak ada sekat/ temboknya. Berbeda dengan bangunan rumah sekarang. Semua orang membangun pagar dengan tinggi-tinggi," ujarnya.

Fatkhul Khoir dari KontraS Surabaya menambahkan, baginya toleransi masih di permukaan kulit, belum sampai pada kedalaman inti. Dia mencontohkan ketika kasus Syiah Sampang, yang tercerabut akar sosial budayanya. Namun saat itu sejumlah elemen lebih banyak memilih diam.

"Problem kekerasan, tidak hanya persoalan agama saja, tetapi juga berkelindan dengan politik, ekonomi dan sosial budaya," papar Khoir panjang lebar.
 
Diskusi ini dihadiri oleh beberapa organisasi kemahasiswaan dan agama yaitu GMKI, PMKRI, PMII, Gerdu Suroboyo, Pemuda Katolik, Gema Inti, Oikmas GKI, Ansor. Diskusi ini ditutup dengan doa lintas iman, sembari mendoakan pilihan gubernur DKI dan daerah lainnya supaya berjalan dengan aman dan kondusif. [suf]

Komentar

?>