Jum'at, 25 Mei 2018

Soeharto dan Jenderal di Sekelilingnya (8)

Prediksi Jenderal Benny: Saya Jamin Anaknya Tak Gantikan Soeharto

Senin, 23 Januari 2017 11:42:10 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Prediksi Jenderal Benny: Saya Jamin Anaknya Tak Gantikan Soeharto
Jenderal LB Moerdani (kanan) dan Jenderal M Jusuf (kiri) di satu kesempatan. [Foto: profilbos.com/air/bj.com]

Surabaya (beritajatim.com)--Julukannya tokoh intelijen Indonesia. Sejumlah jabatan intelijen di banyak lembaga intelijen negara pernah disandangnya. Sekali pun tak pernah menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam), namun kursi Panglima ABRI (Pangab) pernah didudukinya. Dia adalah Jenderal Leonardus Benyamin (LB) Moerdani.

Jenderal Benny, panggilan akrabnya, pati TNI bintang 4 kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jateng diangkat Presiden Soeharto sebagai Panglima ABRI Pangkopkamtib menggantikan Jenderal M Jusuf, sekaligus sebagai Pangkopkamtib, pada 29 Maret 1983. Banyak jabatan di lembaga intelijen bersifat strategis pernah dijabatnya, seperti Kepala Intel Strategis, Kepala Intel Kopkamtib, dan Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin)--selanjutnya setelah reformasi 1998 berubah menjadi Badan Intelijen Negara (BIN). Ketiga jabatan itu berada di satu tangan: Jenderal Benny. Realitas itu menjadi kenyataan politik dan historis setelah Indonesia diterjang Malari 1974, yang mengorbankan Jenderal Soemitro, Pangkopkamtib dan Wakil Panglima ABRI, dari singgasana kekuasaan politik-militer.

Sejak masuk di dunia militer Indonesia, Jenderal Benny mendedikasikan penugasannya di dunia intelijen dan satuan tempur elite strategis TNI AD. Jenderal Benny lama ditempa dalam pendidikan dan pertempuran di sejumlah palagan dengan menyandang Korps Baret Merah (RPKAD/Kopasandha/Kopassus). "Kursi ini sangat powerfull," kata Jenderal Benny sambil menepuk-nepuk pegangan kursi yang didudukinya sebagai Panglima ABRI sebagaimana ditulis Prof Salim Haji Said, Ph.D, dalam bukunya: Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.

"Saya sebenarnya telah teken mati jadi intel. Tak pernah bermimpi duduk di kursi ini (Panglima ABRI)," tambah Jenderal Benny kepada Salim Said. Sebagai tokoh intelijen nomor wahid di Indonesia, kiprah, reputasi, dan sepak terjang Jenderal Benny diakui banyak kalangan di Indonesia. Bukan sekadar tokoh dan orang sipil saja yang memberi acungan jempol dan segan dengan sepak terjangnya. Ternyata dari kalangan militer pun banyak yang segan dan bahkan takut dengan Jenderal Benny.

Salim Said menulis, di kemudian hari setelah Jenderal Benny tak lagi berkuasa, ketika perlakuan Jenderal Benny kepada dirinya di Saigon (Vietnam Selatan) dan ketakutannya, diceritakan kepada seorang jenderal, tambah Salim Said, sang petinggi militer menanggapi dengan mengatakan, "Apa Pak Salim kira cuma Pak Salim yang takut? Kami semua dulu juga sangat takut kepada Pak Benny dan aparat intelnya."

Kok bisa? Dengan aparat intel yang menciptakan rasa takut di kalangan para perwira itulah, antara lain, menurut Salim Said, Jenderal Benny mudah mengontrol ABRI untuk waktu yang lama. "Maka selain mengawasi secara ketat kekuatan-kekuatan kritis dalam masyarakat, ABRI juga diamati secara seksama oleh jaringan intel yang dikuasai Benny," tulis Salim Said.

Fakta ini, menurut Salim Said, yang menjadi alasan mengapa Prof Ben Anderson dari Cornell University Amerika Serikat, melihat ABRI waktu itu sebagai berfungsi sama dengan tentara KNIL pada era pemerintah kolonial Belanda. KNIL disiapkan untuk tak menghadapi musuh dari luar. Tugas utama KNIL adalah menjaga ketertiban dan keamanan dalam negeri. Karena itu, bukan hal mengejutkan saat diserbu tentara Jepang pada 1942, tentara KNIL kalah dan tunggang-langgang dalam tempo sekejap.

Selama menjabat sebagai Panglima ABRI/Pangkopkamtib, Jenderal Benny begitu disegani dan ditakuti, terutama oleh kalangan aktivis Islam, setelah peristiwa Tanjung Priuk meletus yang mengakibatkan sejumlah aktivis Islam meninggal dunia, seperti Amir Biki, akibat berondongan senjata api militer. Walaupun dikenal sebagai loyalis Soeharto dan oleh sebagian kalangan dinilai sebagai pengawal Soeharto, realitas itu bukan berarti Jenderal Benny tak bisa bersifat kritis dan realistis.

Pada satu kesempatan saat Salim Said wawancara dengan Jenderal Benny di kantornya, di Mabes ABRI di Jakarta, ketika disinggung soal suksesi kepemimpinan nasional, Jenderal Benny tiba-tiba menunjuk potret Presiden Soeharto yang tergantung di dinding kantornya sambil berkata, "Saya jamin anaknya tak akan menggantikannya."

Anaknya yang dimaksud adalah salah satu anak Presiden Soeharto, yakni Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Mbak Tutut), yang saat itu namanya yang dikait-kaitkan dengan proses suksesi kepemimpinan nasional.

Salim Said menulis, di kemudian hari ketika Mbak Tutut, putri tertua Presiden Soeharto, mulai muncul di tataran politik nasional sebagai salah seorang pemimpin Golkar di bawah Ketua Umum Harmoko, bahkan kemudian menjadi anggota kabinet, dia kemudian teringat omongan Jenderal Benny. "Apakah waktu itu Jenderal Benny sudah melihat gejala Soeharto sedang mempersiapkan putri sulungnya menjadi penggantinya kelak," tulis Salim Said.

Fakta politik mutakhir menunjukkan, akibat reformasi 1998, rezim Orde Baru Soeharto tumbang. Anak-anak mantan penguasa Orde Baru itu mulai meredup karirnya di jalur politik nasional. Mbak Tutut pernah mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) bersama mantan KSAD Jenderal Purn R Hartono, tapi parpol baru ini ternyata tak menarik konstituen, sehingga gagal lolos sebagai peserta pemilu berikutnya. [air/habis]

Tag : militer

Komentar

?>