Politik Pemerintahan

Simulasi Gempa dan Tsunami

Warga Pancer Banyuwangi Kilas Balik Bencana Tsunami 1994

Banyuwangi (beritajatim.com) – Ratusan warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran tiba-tiba panik lantaran terjadi gempa dan tsunami. Mereka beramai-ramai menyelamatkan diri dari guncangan dan ombak dahsyat.

Dengan komando Early Warning System (EWS) bencana yang berbunyi mereka tergerak bersama menuju ke tempat aman. Tak hanya itu, jalur evakuasi yang terpasang di setiap titik menjadi petunjuk mereka berlari.

Warga lain yang sigap, membunyikan kentongan dan siaran di masjid dengan pengeras suara.

Meski demikian, dahsyatnya gempa yang mengguncang daerah itu tak kuasa meluluhlantakkan permukiman warga. Banyak korban berjatuhan akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Warga hanya mampu menyelamatkan dirinya dan sejumlah barang sebisanya. Hanya satu kata lantang yang bisa mereka ucapkan, yakni ‘tolong’.

Tak lama setelah itu, gulungan ombak besar menyapu seluruh daratan. Bangunan rumah, kantor, layanan publik di daerah itu rata. Tak terkecuali jiwa manusia.

Namun, usai bencana itu terjadi kesigapan warga bersama petugas gabungan Polri, TNI, BPBD serta instansi setempat mampu membuat angin segar. Mereka sigap saling mendukung dan membantu keselamatan bersama.

Sejumlah korban berhasil dievakuasi meskipun dengan keadaan luka parah hingga meninggal dunia. Evakuasi juga dilakukan tak hanya di darat, melainkan penyelamatan di laut juga berhasil dilakukan.

Kelengkapan penyelamatan, seperti ambulan, tandu, posko bencana, dan dapur darurat juga telah berdiri, termasuk kelengkapan kesehatan. Warga dievakuasi ke tempat aman.

Kondisi itu merupakan gambaran simulasi kesiapsiagaan bencana gempa dan tsunami yang dilakukan oleh gabungan Polri, TNI, BPBD, dan warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

“Kita tahu akhir-alhir ini ada bencana di Indonesia. Kita pilih di sini, terlebih di tempat ini pada tahun 1994 ada tsunami yang merenggut 300 orang,” kata Kapolda Jawa Timur, Irjen Polisi Luky Hermawan saat ditemui di Pantai Mustika lokasi simulasi bencana, Sabtu (5/1/2019).

Selain itu, kata Luky, daerah ini juga menjadi prioritas.

“Jadi kami prioritaskan di ujung pulau jatim yakni Pancer, memberikan edukasi warga, sehingga paham terkait kejadian alam yang terjadi,”

“Kami Ingin mensimulasikan melatih kesiapsiagaan mengingatkan kembali tsunami yang pernah terjadi. Belum lama ini bencana juga terjadi di Jawa Barat di pandeglang dan Lampung. Kami tidak ingin di Jatim terjadi hal yang sama,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya akan terus melakukan edukasi kepada warga untuk kesiapsiagaan bencana. Bahkan, Pemda juga akan membuat simulasi yang sama di tempat lain.

“Hari ini kita bersama-sama Polda dan TNI memberikan edukasi kepada masyarakat. Kita buat sibuk mereka dalam ranga mengantisipasi bencana. Ini saya rasa bentuk yang menarik,”

Anas menyebut, hal paling penting dalam kesiapsiagaan bencana adalah kepekaan warga akan tanda-tanda alam.

“Alat itu hanya bantuan, kita semua ini punya sensor masing-masing tanda-tanda alam. Seperti tanda alam ada hewan turun atau gempa. Kalau ada EWS (Early Warning System) hanya bantuan, secara bertahap EWS kita akan perbaiki,” katanya.

Terlebih, kata Anas, daerah Dusun Pancer merupakan kawasan pariwisata. Sehingga, pemerintah memiliki peran untuk memberikan edukasi dan pemahaman terhadap warga.

“Kedepan kita akan perbaiki jalur evakuasi dan sarana lain. Tapi yang terpenting adalah melatih kepekaan warga terhadap bencana,” pungkasnya. (rin/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar