Politik Pemerintahan

Usai Pilpres, Ini Sikap Kelompok Cipayung Plus Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – Kelompok Cipayung Plus, organisasi pergerakan mahasiswa di Jatim mengimbau kepada seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat di Jatim menjaga suasana kondusif dan menunggu pengumuman resmi KPU pada 22 Mei nanti.

Mereka mengaku prihatin dengan keresahan yang dirasakan masyarakat di akar rumput pascapemilu serentak pada 17 April 2019.

Pasalnya, antarkontestan Pilpres saling mengklaim kemenangan. Bahkan, masing-masing pendukung sudah bereuforia yang berlebihan, padahal kepastian siapa yang menjadi pemenang Pilpres baru akan diumumkan pada 22 Mei mendatang.

Abdul Ghoni salah satu pimpinan Cipayung Plus Jatim dari unsur PMII kepada wartawan di RM Agis Surabaya, Selasa (30/4/2019) malam mengatakan, ada upaya sistematis mendiskreditkan atau mendelegitimasi penyelenggara pemilu, baik itu KPU maupun Bawaslu hingga aparat keamanan yang ikut menjaga pelaksanaan Pemilu.

“Ini berbahaya kalau dibiarkan, karena negara dianggap tidak mampu melaksanakan Pemilu. Padahal, Pemilu 2019 sudah berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Ketua PKC PMII Jatim, Abdul Ghoni.

Pihaknya berharap Jatim tetap kondusif, karena sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadan. Cipayung Plus Jatim juga membuat peryataan sikap.

Pertama, Kami mengucapkan terima kasih kepada KPU, Bawaslu, TNI, Polri dan semua elemen bangsa yang menyukseskan agenda pemilu serentak 2019.

Kedua, Kami mendukung dan mengharapkan kepada KPU tetap menjaga integritas dan profesionalismenya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya
dengan mengedepankan asas transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat.

Ketiga, Kami mengimbau kepada semua pihak, terutama yang berkontestasi dalam politik untuk menempuh jalur hukum yang ada, apabila menemukan dugaan kecurangan atau pelanggaran dalam proses Pemilu yang sedang berlangsung.

Keempat, Kami mengimbau kepada elit-elit politik untuk memberikan suri tauladan kepada rakyat dengan menjunjung tinggi kaidah-kaidah demokrasi yang berkemanusiaan, beradab dan bermartabat.

Kelima, Kami mengimbau kepada semua pihak untuk bersabar menunggu hasil rekapitulasi resmi dari KPU dan berhenti saling mengklaim kemenangan demi menjaga kondusifitas di tengah-tengah masyarakat.

Keenam, Menyampaikan empati dan duka mendalam kepada penyelenggara pemilu di tingkat TPS, kecamatan maupun kelurahan yang telah gugur dalam menjalankan tugas memastikan Pemilu berjalan dengan baik, aman dan lancar.

Ketujuh, Meminta kepada pemerintah dan DPR untuk meninjau ulang Undang-undang tentang Pemilihan Umum berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemilu.

“Mudahan-mudahan revisi UU Pemilu untuk Pemilu 2024 lebih manusiawi, agar tidak semakin banyak korban meninggal dunia akibat tenaga dan pikirannya diforsir menghitung suara hasil pemilu,” pungkas Abdul Ghoni.

Baca Juga:

    Selain Abdul Ghoni, turut hadir dalam pernyataan sikap di depan media adalah pimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jatim Yogi Pratama, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Rijal Rachman, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Nabrisi Rohid, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Ridwan, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Wayan dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Aldo. (tok/ted)

    Apa Reaksi Anda?

    Komentar