Politik Pemerintahan

Terminal Mangkrak di Surabaya Jadi Sorotan DPRD

Surabaya (beritajatim.com) – Komisi C DPRD Surabaya menyoroti banyaknya terminal mangkrak di Kota Surabaya. Terlebih karena biaya operasional yang dikeluarkan untuk terminal yang mangkrak terus mengalir, termasuk di APBD 2019.

Anggaran yang dikucurkan juga tidak sedikit. Setahun anggaran untuk operasional 14 terminal sekitar Rp 27 miliar, di mana lima terminalnya dalam kondisi tak maksimal dan mangkrak.

Salah satunya adalah Terminal Kedung Cowek. Saat didatangi anggota Komisi C, Camelia Habibah, kondisinya mangkrak.

”Tahun ini, untuk anggaran operasional terminal dialokasikan sebesar Rp 27 miliar. Itu untuk 14 lokasi terminal. Termasuk untuk Terminal Kedung Cowek ini. Kalau seperti ini anggarannya kan muspro, sia-sia,” tegasnya.

Untuk itu, komisi yang membidangi pembangunan ini meminta Pemkot Surabaya untuk mengambil langkah solutif menangani gedung-gedung terminal mangkrak tersebut.

”Kondisi terminal benar-benar sepi dan tidak ada satu angkutan pun yang berhenti mencari penumpang di terminal ini. Para sopir angkot jurusan R2 lebih memilih untuk mengangkut penumpang dari luar terminal dan sekitarnya yang jauh dari Terminal Kedung Cowek,” jelas Camelia Habibah.

Melihat kondisi ini, politisi PKB tersebut sangat prihatin karena Terminal Kedung Cowek terbengkalai dan mangkrak. Seharusnya, dikatakan Habibah, Terminal Kedung Cowek ini dibangun lebih dekat dengan pasar, dan dibuat terlalu menjorok ke dalam. Sedangkan kondisi terminal ini, selain menjorok ke dalam juga hanya difungsikan untuk satu jenis angkutan saja.

”Saat hearing sering saya sampaikan, ini adalah satu produk gagalnya Pemkot Surabaya. Gagal fokus, karena Pemkot Surabaya tidak fokus, dan pembangunan terminal ini salah posisi, salah penempatan. Ini mengapa harus ada kajian sosial kalau mau bangun apa-apa,” katanya.

Bahkan dalam pantauan Camelia Habibah, hampir tidak ada angkutan yang mau masuk ke dalam terminal. Selain itu, juga tidak banyak orang yang lalu lalang di terminal ini. Bahkan Habibah menyebut terminal ini sudah seperti kuburan lantaran hampir tidak ada aktivitas di terminal.

”Ini namanya buang-buang uang. Setiap tahun ada anggaran operasionalnya. Saat ini saja di sini ada sepuluh personel yang bertugas di Terminal Kedung Cowek. Delapan orang outsourcing dan dua orang PNS,” katanya.

Mereka tidak bertugas maksimal lantaran di Terminal Kedung Cowek juga tidak ada aktivitas yang berarti. Begitu juga tidak ada kendaraan yang masuk ke dalam terminal.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Komisi C berniat untuk memanggil Bappeko untuk membicarakan terminal-terminal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya tersebut. Sebab Bappeko adalah perencana semua pembangunan di Kota Surabaya, namun saat direalisasikan tidak tepat guna, maka tetap harus ada solusi.

”Kalau saya mengusulkan, misalnya perpanjang trayek angkutan, termasuk yang dari Bulak Banteng juga diperpanjang saja sampai sini. Sehingga orang yang naik bus dari Suramadu bisa berganti angkutan di Terminal Kedung Cowek. Atau yang kedua adalah ada petugas yang berjaga di depan untuk mengarahkan angkutan masuk ke dalam terminal,” katanya.

Selain itu Habibah juga mengusulkan agar ada pengadaan Bus Suroboyo mini. Yang kursinya tidak lebih dari 20 seat. Sebab saat ini Bus Suroboyo ukurannya terlalu besar dan tidak bisa masuk ke wilayah Surabaya Utara. [ifw/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar