Politik Pemerintahan

Tangis Rieke ‘Oneng’ Pecah di Pusara Gus Dur

Jombang (beritajatim.com) – Rieke Diah Pitaloka bersimpuh di pusara KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tubuhnya berbalut pakaian serba putih. Termasuk kerudung warna putih juga bertengger di kepala politikus PDI Perjuangan ini.

Di depan makam itu, Rieke merapal doa, kadang-kadang matanya terkatup. Nah, di saat itulah terlihat cairan bening meleleh dari kelopak matanya. Ya, pemeran Oneng dalam sebuah sinetron ini menangis di pusara guru bangsa tersebut.

Di makam tersebut, Rieke tidak sendiri. Dia ditemani sejumlah aktivis buruh. Semua duduk bersimpuh. Mengirim doa untuk sang guru bangsa. Suasana sakral dan khidmat sangat terasa di makam keluarga pesantren Tebuireng Jombang itu.

Usai berdoa Rieke dan rombongan meninggalkan makam tersebut. Saat keluar dari area makam itulah, dia buru-buru mengambil tisu warna putih untuk menyeka air matanya yang mengalir deras. Bagi Rieke, Gus Dur memang sangat istimewa. Seorang sahabat, guru, bahkan juga orang tua.

“Gus Dur adalah orang yang pertama kali membawa saya ke kancah politik. Gus Dur yang mengajarkan saya politik kemanusiaan. Bahwa di dalam politik itu yang menjadi landasan dan tujuan kita adalah menegakkan keadilan serta kemanusiaan,” ujar Rieke usai dari makam, Kamis (2/4/2019).

Sebelum berziarah ke makam Gus Dur, Rieke juga menjadi narasumber Seminal Nasional tentang RUU PKS (Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual) yang bertempat di Aula KH Yusuf Hasyim Tebuireng.

Di forum tersebut Rieke juga sempat merekam ulang awal perjalanan politiknya. Lagi-lagi, semua itu tidak lepas dari peran Gus Dur. Rieke berkisah, dirinya dan Gus Dur berteman cukup lama. Bahkan saat Gus Dur masih hidup, hampir setiap Jumat, Rieke, Franky Sahilatua, Ki Slamet Gundono, serta seorang anak indigo, Albert, selalu berkumpul di kantor PBNU.

“Setelah salat Jumat kita selalu kumpul untuk diskusi. Saya juga pernah menemani Gus Dur saat cuci darah. Dalam ruangan itu hanya ada saya, Prof Mahfud MD (Mantan Ketua MK), serta Gus Dur sendiri. Pak Mahfud pasti masih ingat,” cerita Rieke sembari memandang Mahfud MD yang duduk di kursi narasumber.

Rieke melanjutkan, semenjak Gus Dur wafat, dirinya sebenarnya tidak pernah mau melihat makam mantan Ketua Umum PBNU tersebut. Rieke juga tidak hadir saat Gus Dur dimakamkan. “Karena saya selalu ingin merasakan Gus Dur masih hidup. Gus Dur adalah guru saya, beliau sahabat saya, beliau orang tua saya,” kata Rieke dengan suara tercekat.

Rieke beralasan mengapa dirinya menceritakan sosok Gus Dur. Karena, lanjutnya, Gus Dur pula yang mengajarkan kepada Rieke bahwa fungsi hukum yang pertama adalah mengorganisir tanggungjawab. Bukan untuk menakut-nakuti masyarakat.

“Dan saya kira itulah inti sari filsafat hukum. Orientasi hukum bukan pada sanksi, tapi tanggungjawab. Gus Dur lah yang mengajarkan itu kepada saya,” ujar Rieke menegaskan. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar