Politik Pemerintahan

Surabaya Sudah Bersama Papua Sejak 1970-an

Surabaya (beritajatim.com) – Hubungan antara Kota Surabaya dengan Papua layak dibilang jauh di mata dekat di hati. Karena meskipun jarak keduanya cukup jauh, Kota Surabaya dengan Jayapura sebagai salah satu kota besar di Papua berjarak lebih dari 3 ribu Km, namun hubungan keduanya sangat erat.

Bukti keeratan hubungan antara Surabaya dengan Papua terpampang nyata dan bisa ditemukan dimana saja. Mulai dari bentangan sejarah, banyaknya pejabat di Surabaya yang berdarah Papua, hingga gelar yang didapat Wali Kota Surabaya dari warga Papua. Berikut ulasan tentang hubungan antara Surabaya dan Papua yang dirangkum oleh beritajatim.com, Rabu (11/9/2019).

1. Sudah Sejak Tahun 70’an

Irjen Pol Paulus Waterpauw 

Sejarahwan UNAIR Adrian Perkasa mengungkapkan, jika dalam catatan sejarah, hubungan antara Surabaya dengan Papua sudah terjalin sangat erat. Keduanya telah bahu membahu dengan akrab sejak era 70’an.

“Jadi sekitar tahun 1970 itu Pemerintah Pusat memberikan insentif bagi warga Papua untuk belajar di Jawa. Waktu itu memang ada dua kota, Surabaya dan Jogjakarta. Tapi, paling banyak dan yang menjadi pusatnya adalah di Surabaya,” kata Adrian.

“Jadi sejak dulu itu sudah berbaur antara masyarakat Surabaya dan Papua. Sudah terbiasa hidup berdampingan bersama-sama,” tambah pria yang tengah melanjutkan studi di Universitas Leiden Belanda ini.

Hubungan yang erat sejak dulu itu pun mencetak beberapa tokoh bangsa asal Papua. Mereka meraih pendidikan di Kota Surabaya hingga akhirnya sukses.

“Salah satunya adalah Irjen Pol Paulus Waterpauw. Waktu itu Beliau ikut orang tuanya dan bersekolah di SMPN 6 dan SMAN 5 Surabaya. Kalau yang kuliah di Surabaya dan menjadi tokoh nasional ya banyak,” jelas Adrian.

Masih berdasarkan catatan sejarah, Adrian memastikan jika tak pernah ada dalam catatan sejarah konflik terjadi antara masyarakat Surabaya dan Papua sebelum era ’98. “Damai dulu itu,” ujarnya.

“Sebelum ’98 itu akrab sekali. Kalaupun ada gesekan hanya ringan dan kecil saja. Nah setelah ’98 itu kan yang ringan dan kecil itu digoreng karena kepentingan dan menjadi besar,” pungkas Adrian.

2. Banyak Pejabat Pemkot Surabaya Berdarah Papua

Lenis Kogoya bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini

Di tataran pejabat Pemkot Surabaya terdapat beberapa sosok berdarah Papua. Mereka setiap hari turut melayani masyarakat Surabaya yang memang terdiri atas beragam suku bangsa dan agama.

Ketua Masyarakat Adat Tanah Papua sekaligus Staf Khusus Presiden untuk wilayah Papua, Lenis Kogoya merasa bangga ada warga asli Papua menjadi bagian pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Hal tersebut membuktikan bahwa Surabaya menerima semua warga Indonesia dari berbagai daerah.

“Kami di Istana (Presiden) ini kan sudah ada orang Papua, di sini Surabaya sudah dilakukan juga ternyata. Kepala Dinas, Kepala Distrik, Camat juga ada orang Papua juga dipasang. Ini kan terobosan baru mungkin semua provinsi bisa belajar ke Surabaya,” kata Lenis dalam siaran persnya pada hari Rabu (21/8/2019).

Beberapa sosok pejabat itu diantaranya adalah Kabag Humas Pemkot Surabaya M. Fikser dan pejabat di lingkungan Satpol PP Surabaya yang juga Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) Pieter Rumaseb.

3. Risma Mama Papua

Risma saat dinobatkan menjadi Mama Papua

Pada tahun 2017 lalu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendapatkan gelar ‘Mama Papua’. Dengan gelar itu, Wali Kota Risma menjadi pengayom seluruh warga Papua di tanah Surabaya.

“Sudah lama saya menginginkan ini. Saya bersyukur bertemu dengan saudara-saudara saya Papua,” ujar Risma saat memberi sambutan dalam acara Ibadah dan Natal Bersama Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya di Graha Sawunggaling Pemkot Surabaya, Sabtu (21/1/2017).

Sebelum penyematan Mama Papua, Risma terlebih dahulu melakukan mansorandak atau tradisi injak piring. Tradisi ini biasanya dilakukan untuk menyambut anggota keluarga dari rantau atau luar Papua. Penyematan sebutan Mama Papua dilakukan dengan menyematkan tiga benda khas Papua yakni mahkota Cenderawasih, kain batik Papua, dan noken rajut akar. Dengan tiga benda itu, Risma turut bernyanyi dan berjoget dengan warga Papua.

“Tidak ada yang berbeda pada diri kita. Tak ada yang lebih dan tak ada yang kurang. Kita adalah keluarga besar,” ujar Risma.

Sebagai Mama Papua, Risma berjanji akan membantu warga Papua yang ada di Surabaya. Bila ada yang membutuhkan bantuan, Risma bersedia datang dan membantu.

“Saya sekarang adalah mama kalian. Saya akan bantu masalah kalian. Saya adalah mama kalian,” ucap Risma.[ifw/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar