Politik Pemerintahan

Suksesor Wali Kota Risma Harus Bisa Angkat Martabat Persebaya

Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai barometer persepakbolaan nasional, Kota Surabaya telah memiliki sejarah panjang dengan olahraga si kulit bundar itu. Sejarah panjang pun telah tertoreh di Kota Pahlawan.

Di masa lalu, Kota Surabaya juga pernah memiliki Niac Mitra dan Asyabab Salim Group yang sempat berjaya di era 80-90an. Arsenal pun pernah takluk dengan skor 2-0 di Gelora 10 Nopember pada tahun 1983 di tangan Niac Mitra.

Kini, Surabaya memiliki Persebaya dan juga Bonek yang pernah bersama-sama merajai banyak kompetisi nasional.

Lekatnya Surabaya dan sepak bola menjadikan tantangan kota ini ke depan adalah membuat Persebaya sebagai klub yang lebih profesional dan berprestasi.

Menurut Rochmad Eko Wartianto, seorang intelektual pecinta Persebaya, Persebaya saat ini sudah sangat baik. Presiden Klub, Azrul Ananda, perlahan mengubah Persebaya menjadi klub yang dikelola secara modern, akuntabel, dan profesional. “Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa (di masa lalu) klub-klub sepakbola ex Perserikatan terlalu menggantungkan diri pada APBD Kota/Kabupaten masing-masing,” katanya

“Citra inilah yang diubah oleh Azrul. Keberhasilannya mengelola DBL menjadi ajang bergengsi skala nasional sedang ia usahakan juga pada Persebaya,” tambah Rochmad.

Lebih lanjut, Rochmad berpendapat jika dalam masa mendatang Wali Kota Surabaya haruslah seorang yang punya kepedulian lebih tinggi terhadap sepak bola. “Wali Kota Surabaya mendatang harus orang yang gila bola. Harus peduli dengan Persebaya dan mau menjadikan klub ini lebih berprestasi,” tegasnya.

“Caranya mungkin bisa dengan menjadi fasilitator bagi investor besar yang mau berinvestasi di Persebaya dan menjadikan klub ini terbaik di tanah air bahkan Asia,” kata Rochmad lebih lanjut.

Sister City yang tengah dijalin dengan Liverpool pun dipandang menjadi salah satu modal utama untuk bisa meraih hal itu.

“Kota Surabaya sekarang bersahabat karib dengan kota Liverpool yang punya klub tersohor, Liverpool FC. Jadi saya pikir ke depan ini Surabaya harus punya Wali Kota yang berwawasan luas dan bervisi besar dalam sepakbola. Tujuannya agar Persebaya bisa jadi klub yang lebih besar, karena klub ini sudah menjadi ikon Surabaya secara nasional,” ujar Rochmad.

Berdasarkan catatan Rochmad, ada beberapa nama yang sebelumnya telah mewarnai berbagai media dalam bursa Pilwali Surabaya. Beberapa diantaranya adalah Azrul Ananda, Kepala Bappeko Eri Cahyadi, Politisi muda PSI Dhimas Anugrah, K. H. Zahrul Azhar Asad (Gus Hans), Whisnu Sakti Buana, dan juga Fandi Utomo.

“Mas Azrul sudah cukup dikenal. Sebagai Presiden Persebaya, Mas Azrul ini dekat dengan pemain-pemain dan juga Bonek. Sebagai Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi tentu punya pengalaman dan kecakapan untuk mengelola kota ini sebaiknya seperti apa. Ia tahu betul Persebaya itu aset penting warga Surabaya. Sedangkan Gus Hans ini figur yang cukup bisa diterima. Beliau tokoh agama yang bijak dan dekat dengan urusan sepakbola. Beliau menggagas Football for Peace,” beber Rochmad.

“Kalau Dhimas Anugrah ini sudah mencuri perhatian sejak 2018 kemarin ya. Dia politisi dari partai anak muda. Orangnya cerdas dan punya pengalaman melihat langsung pengelolaan klub sepakbola di Inggris. Dia sudah berkunjung ke Old Trafford Stadium Manchester dan Anfield Stadium Liverpool. Lalu, Whisnu Sakti dan Fandi Utomo ini sama-sama punya semangat membangun Surabaya. Saya pikir mereka pasti akan sungguh-sungguh membangun Persebaya,” tambahnya.

Di luar nama-nama tersebut di atas, menurut Rochmad masih sulit diprediksi komitmennya membangun Persebaya. Rochmad dan para pecinta sepakbola Surabaya berharap partai-partai tidak keliru memilih kadernya untuk maju ke kontestasi Pilwali 2020.

“Partai-partai jangan sampai keliru ajukan kader jadi calon Wali Kota atau Wakil Wali Kotanya, tetapi pikirkan juga misi-visi dan kemampuan kader itu dalam membangun ikon sepakbola Surabaya, yaitu Persebaya. Ini penting,” pungkas Rochmad.[ifw/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar