Politik Pemerintahan

Siswa SMP 5 Ponorogo Diseret Ikut Politik Saat Sambut Presiden RI, Ini Kata Kepseknya

Kepala SMPN 5 Ponorogo Ruskamto

Ponorogo (beritajatim.com) – Kepala SMPN 5 Ponorogo Ruskamto mengaku sangat menyayangkan tindakan beberapa pihak yang memanfaatkan para muridnya untuk melakukan salam dua jari saat para pelajar tersebut dikerahkan menyambut kedatangan Presiden RI Joko Widodo dalam kunkernya di Ponorogo, Jumat (4/1/2019) lalu.

Ruskamto dengan tegas membantah salam dua jari tersebut adalah perintah dari dirinya atau enam oran guru lainnya yang mengawal siswa kelas 8 di tepian jalan Ahmad Dahlan tersebut sepanjang hari tersebut.

Sikap salam dua jari tersebut juga baru diketahuinya setelah pada Jumat malam ia menerima sebuah pesan video di sebuah grup medsos miliknya.

“Kami tidak tahu kalau anak-anak melakukan itu. Kalau kami mau disalahkan ya disalahkan yang bagaimana. Kami ini bertujuh berbagi mengawal ratusan anak. Di situ ada polisi dan TNI juga yang ikut berjaga,” ungkap Ruskamto, Selasa (8/1/2019).

Setelah menjadi virus digital alias viral dan keluhan orang tua membanjiri ponselnya, ia pun segera mengumpulkan murid-muridnya yang disinyalir melakukan salam dua jari.

“Ternyata anak-anak itu diajari, dikomandoi, oleh orang berbaju putih yang ada dalam video itu. Dia bukan guru di sekolah kami. Entah siapa saya juga tidak tahu. Anak-anak mengatakan, orang itu bilang memang seperti itulah salam untuk menyambut Presiden Jokowi. Anak-anak sendiri mengaku tidak tahu kalau itu adalah salam dua jari capres Prabowo-Sandi. Anak-anak lebih memahami salam seperti itu sebagai salam literasi, atau salam anti LGBT,” ujarnya.

Ruskamto juga yakin, pembuatan foto-foto dan video yang kemudian beredar luas tanpa batas itu dilakukan oleh orang-orang yang cukup menguasai alat-alat fotografi dan videografi. Sebab gambarnya sangat pas dan momennya tepat.

“Saya sendiri sebenarnya melihat ada beberapa orang yang membawa kamera. Tapi saya pikir ya mereka wartawan. Jadi wajar kalau nenteng-nenteng kamera begitu,” ucapnya.

Ruskamto mengaku siap kalau memang harus ada penyelesaian lewat jalur hukum terkait pemanfaatan murid-muridnya untuk melakukan hal yang tidak pantas tersebut. Tidak pantas, kata Ruskamto, karena anak-anak tersebut masih terlalu muda untuk dijadikan pemilih.

“Sampai ke mana pun saya turuti. Tidak patut membawa anak-anak ke ranah politik,” imbuhnya.

Anak-anak, lanjut Ruskamto, berkali-kali diajari salam dua jari tersebut oleh orang berbaju putih tersebut. Bahkan, ada anak yang mengaku bila mereka bisa melakukan salam tersebut maka si orang berbaju putih itu akan memberi mereka sate.

“Anak-anak percaya dan mau-mau saja. Apalagi mereka itu kan berdiri tepat di depan rumah makan yang berjualan sate, namanya Rumah Makan Sate Lego. Nyatanya, anak-anak itu juga tidak diberi sate. Anak-anak yang langsung pulang saja katanya,” pungkasnya. [dil/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar