Politik Pemerintahan

Sisi Lain Desa Angsanah

Pamekasan (beritajatim.com) – Desa Angsanah, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, selama ini selalu identik dengan sebutan Desa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Pamekasan.

Bahkan selain hanya sabatas lokasi TPA Sampah, desa tersebut dinilai tidak memiliki potensi lain yang dapat mendombleng kesejahteraan masyarakat, khususnya di sektor perekonomian masyarakat. Padahal terdapat potensi lain yang semestinya menjadi branding mempuni dari sekedar ‘lokasi pembuangan sampah’.

Di antara beberapa potensi mempuni tersebut, salah satunya dari sektor batik tulis. Apalagi sebagian besar masyarakat juga banyak yang mengadu peruntungan melalui sektor batik, yakni sebagai perajin yang ironisnya justru ‘dimanfaatkan’ oleh desa sekitar.

Kondisi tersebut justru membuat Desa Angsanah, semakin terbenam dan jauh tertinggal dibandingkan desa lain yang mengandalkan perekonomian melalui sektor batik. Seperti Desa Klampar, yang terkenal dengan produksi batik. Justru sebagian di antaranya justru berasal dari para perajin asal Desa Angsanah.

Hal tersebut diakui oleh Kepala Desa (Kades) Angsanah, Mohammad Masduki yang menyampaikan sebagian masyarakat yang dipimpinnya berprofesi sebagai pembatik. Didukung dengan hasil observasi mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, yang tengah menjalani program Perkuliahan Kerja Nyata (PKN) di desa setempat.

“Sebelumnya kami sampaikan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan, yang sudah meyakinkan kami untuk menggali potensi desa kami. Hal ini tentunya membuat kami semakin bersemangat untuk terus menggali potensi desa, selanjutnya kita branding dengan konsep desa tematik,” kata Mohammad Masduki, Rabu (17/7/2019).

Diakuinya, selama ini desa yang dipimpinnya memang hanya identik dengan TPA Sampah. Padahal dibalik itu, terdapat potensi lain yang semestinya menjadi nilai lebih demi menunjang sektor perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu di antaranya sebagai desa perajin batik.

“Sebagian masyarakat kami memang bergerak di sektor batik, bahkan hasil karya dari para perajin batik asal Angsanah, juga sangat terkenal. Sayangnya ketenaran hasil karya mereka tidak ada embel-embel nama Angsanah,” ungkap kades yang akrab disapa Pak Masduki.

Dari itu pihaknya berencana bersama mahasiswa PKN untuk menggali potensi desa lebih detail, demi mendukung upaya yang diharapkan untuk masa depan desa yang dipimpinnya. “Hal ini juga sejalan dengan apa yang digagas Pemkab Pamekasan, dimana semua desa di Pamekasan harus menentukan tema dalam program Desa Tematik yang direncanakan digelar pada 2020 mendatang,” jelasnya.

“Jadi jauh sebelum gagasan ini kita seriusi, ada beberapa perajin asal Desa Angsanah, yang sudah terkenal dengan hasil karya batiknya. Seperti Putri Madura Batik hingga Udin Batik Podhek, keduanya ini merupakan warga Desa Angsanah,” tegasnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga berencana untuk segera menyiapkan wadah khusus bagi para perajin batik Desa Angsanah. Sehingga mereka bisa menghasilkan karya batik tulis dengan branding Desa Angsanah.

“Orientasi kami harus mengangkat dan membranding batik sebagai potensi menjanjikan, sehingga kami tidak hanya dikenal sebagai desa tempat TPA Sampah,” pungkasnya. [pin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar