Politik Pemerintahan

Sinergi dengan Jepang, Pemkot Surabaya Mantapkan Kebun Raya Mangrove

Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya  sedang menyusun masterplan Kebun Raya Mangrove di sepanjang pantai sisi timur Kota Surabaya.

Masterplan ini, menurut Djoestamadji, Kadis Pertanian dan Pertahanan Pangan kota Surabaya, digarap oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Selain melibatkan dua pihak tersebut, Pemkot Surabaya juga bekerjasama dengan pemerintah Kitakyushu, Jepang. Sebelumnya, antara Surabaya dan Kitakyushu terjalin hubungan sister city. Hal ini disampaikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Menurut Risma, pihak Kitakyushu Jepangsudah pernah mengerjakan proyek serupa di Denpasar. “Biasanya mereka membuat penelitian, itu pernah terjadi di dekat Denpasar, tapi waktu itu mereka buat hanya satu jenis tamaman,” katanya.

Risma menyampaikan, saat ini sedang mendiskusikan soal tanaman mangrove di kebun raya nantinya. Wanita kelahiran Kediri ini ingin jenis mangrove di kebun raya beragam.

“Aku nggak mau kalau cuma satu jenis tanaman, karena mangrove Gununganyar dan Mangrove Wonorejo jenisnya banyak, nah ini yang kupegang. Jadi kebun raya itu seperti hutan, bukan kebun yang tanamannya jenis tertentu,” tegas Risma.

Ada alasan tersendiri mengapa Risma menginginkan lebih banyak jenis mangrove di sana. Pertama tidak rentan rusak jika ada wabah tertentu. Kedua, burung-burung mancanegara akan senang bersinggah di sana.

“Kalau cuma satu jenis bisa rentan, satu rusak, rusak semua. Kalau beragam jenis seperti sekarang saling mendukung, kalau satu kena yang lain bertahan. Mangrove juga lebih homey untuk binatang, misalnya burung mancanegara,” kata Risma.

Pada bulan-bulan tertentu lanjut Risma, burung-burung mancanegara akan singgah ke hutan mangrove. Misalnya September – Oktober, burung-burung datang dari Eropa mau ke Australia. Mereka dari Siberia mampir ke Wonorejo lalu melanjutkan perjalanan ke Australia.

“Nah ketika Australia musim dingin, dia terbang kembali lagi. Singgahnya pagi sekali. Saya pernah lihat macam-macam, ada yang kakinya merah, cucuknya merah, ada yang kakinya panjang, ada yang kakinya kayak mentok, bagus-bagus. Artinya mangrove yang jenisnya beragam disukai binatang. Kalau satu jenis kayak taman biasanya satwa gak begitu suka,” cerita Risma.

Pihak Kitakyushu, kata Risma, sudah menyanggupi permintaan dan syarat yang diajukan Pemkot. Saat ini Mangrove Gununganyar dan Wonorejo mengoleksi kurang lebih 26 jenis dari 260 jenis yang ada di Indonesia. “Surabaya punya jenis mangrove yang paling banyak. Jumlahnya terus bertambah ini sedang kita cari,” tutup Risma.

Djoestamadji, Kadis Pertanian dan Pertahanan Pangan Kota Surabaya menambahkan, kerjasama dengan Kitakyushu ini mengarah kepada beberapa hal. Misalnya masalah air bersih, bantuan tanaman dari Nagoya University, membantu menghadirkan kunang-kunang, dan masih banyak lainnya.

“Kitakyushu membantu tanaman dari Nagoya University, masalah air bersihnya, kunang-kunangnya, persiapan tanaman dan banyak lagi. Nanti LIPI yang mendampingi. Kebun raya nanti seperti kebun raya Purwodadi, hanya saja tanamannya mangrove,” jelas Djoestamadji.

Kunang-kunang menjadi hal penting, Djoestamadji menambahkan kehadiran hewan satu ini menurut penelitian adalah penanda atau indikator udara bersih sekali. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar