Politik Pemerintahan

Rekapitulasi Suara KPU Sumenep Ditutup, Saksi Hanura Ngotot Ajukan Keberatan

Sumenep (beritajatim.com) – Rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumenep yang digelar sejak 30 April 2019 akhirnya tuntas pada Sabtu (04/05/2019).

Hari terakhir rekapitulasi relatif lancar, tanpa ada interupsi maupun keberatan dari saksi dan pihak-pihak lain. Hingga akhirnya proses rekapitulasi ditutup dengan penandatanganan berita acara. Namun saat proses penandatangan hasil rekapitulasi tersebut belum usai, tiba-tiba saksi dari Partai Hanura berdiri, dan maju ke depan meja Komisioner KPU, mengajukan keberatan.

Rizqi Adam, saksi dari Partai Hanura mengaku keberatan dengan rekapitulasi untuk Kecamatan Sapeken yang diindikasikan ada penggelembungan suara. Karena itu, ia ngotot meminta form keberatan.

Namun permintaan itu sempat ditolak oleh komisioner KPU Sumenep, dengan dalih sesuai aturan, protes sudah lewat dari masanya.

“Seharusnya kalau memang saksi keberatan dengan rekapitulasi di tingkat kecamatan, maka silahkan keberatan itu diajukan di hadapan PPK saat rekapitulasi tingkat kecamatan,” kata Komisioner KPU Sumenep, A. Hadi, Sabtu (04/05/2019).

Menurut Hadi, keberatan saksi di tingkat kecamatan bisa menggunakan patokan C1 apabila ada perbedaan perolehan suara. Sedangkan keberatan saat rekapitulasi tingkat KPU, yang digunakan sebagai patokan bukan lagi C1, melainkan DA1.

“Saya sudah sampaikan ke saksi, kalau pengajuan keberatannya sudah lewat. Harusnya saat rekapitulasi di PPK, bukan di KPU kalau menggunakan patokan C1,” ujarnya.

Lebih lanjut Hadi menjelaskan, saat rekapitulasi di tingkat PPK Sapeken, saksi memang sempat mengajukan keberatan, tetapi secara lisan. Dan keberatan itu sudah dijawab oleh PPK Sapeken.

“Nah, saat rekapitulasi di KPU ini tadi, saksi minta form keberatan. Dia katanya mau menulis keberatannya di form yang ada, karena waktu di PPK tidak menuangkan keberatannya secara tertulis. Sayangnya, saksi ini meminta form keberatan justru ketika rekapitulasi sudah selesai. Bukan saat rekapitulasi untuk Kecamatan Sapeken sedang berlangsung,” paparnya.

Suasana semakin memanas ketika KPU bersikukuh tidak bersedia memberikan form keberatan, sementara saksi juga ngotot meminta form keberatan untuk menuangkan keberatannya secara tertulis. Keributan sempat meruncing, hingga aparat kepolisian yang semula berjaga di luar ruang rekapitulasi, langsung masuk ke ruangan, mengantisipasi jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketegangan berakhir ketika Komisioner KPU Sumenep memutuskan untuk memberikan form keberatan pada saksi Hanura. Namun KPU membuat berita acara yang menerangkan bahwa keberatan yang disampaikan saksi Hanura sudah lewat batas waktu.

“Kami akhirnya memberikan form keberatan itu seperti keinginan saksi Hanura, dengan pertimbangan agar situasi tetap kondusif. Namun kami juga menulis di berita acara, bahwa keberatan itu disampaikan saksi ketika proses rekapitulasi sudah berakhir,” ungkap Hadi. (tem/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar