Politik Pemerintahan

Puisi Fadli Zon, Muhammadiyah: Ciptakanlah Puisi Damai

Malang(beritajatim.com) – Puisi Wakil Ketua Partai Gerindra Fadli Zon berjudul ‘Doa yang Tertukar’ menuai kontroversi di masyarakat. Kalangan Nahdliyin menilai, Fadli Zon keblabasan dalam membuat puisi. Bahkan puisi itu dianggap menghina ulama sepuh NU KH Maimoen Zubair.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan seharusnya elit politik tak membuat puisi yang justru menciptakan keteganggan di tengah konstestasi Pilpres 2019. Ia menyarankan elit politik menciptakan puisi yang damai.

“Jangan ada puisi yang saling beradu ketegangan. Lebih baik, belajar memproduksi puisi-puisi yang konteplatif. Puisi-puisi yang damai, yang gembira, dan yang memacu kebersamaan,” kata Haedar di UMM, Kamis, (7/2/2019).

Bahkan Haedar menyidir elit politik yang gemar membuat puisi justru tak paham soal pantun. Ia mengajak kader Muhammadiyah dan generasi milenial untuk melawan puisi berbau politik dengan karya puisi yang menggembirakan.

“Jujur kan kita ini sekarang pantun aja nggak paham. Generasi milenial jika diberi ruang, lawan dengan puisi-puisi yang tabzir dalam bahasa agama, puisi yang menggembirakan,” papar Haedar.

Selain itu, Haedar meminta semua pihak untuk menahan diri. Ia menyayangkan sikap elit politik yang justru membuat kegaduhan dengan puisi dan pernyataan yang dinilai profokatif.

“Kami mengimbau lah baik dalam puisi maupun dalam pernyataan sebaiknya para elit politik menahan diri dan lebih baik lontarkan pernyataan pernyataan yang produktif dan merengkuh,” tandasnya. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar