Politik Pemerintahan

Problem Ibu Kota Baru, Ancaman Defisit Air

Malang (beritajatim.com) – Ibu Kota baru Indonesia di Penajam, Kalimantan Timur memiliki persoalan utama, kebutuhan sumber mata air. Kawasan ini bila tidak dipersiapkan dengan baik bakal mengalami defisit air baku dalam beberapa tahun ke depan.

Akademisi Universitas Brawijaya (UB), Prof Pitojo Tri Juwono mengatakan, ibu kota harus menjadi wilayah representatif. Kebutuhan air baku harus menjadi prioritas utama dalam rencana pemindahan ibu kota ini.

Dari hasil kunjungan ke calon ibu kota baru, air baku untuk masyarakat belum terpenuhi. Dari empat bendungan di wilayah Penajam Paser Utara sejauh ini mampu menghasilkan air bersih sebesar 2,56 mili kubik per detik. Jumlah ini masih kurang bila wilayah ini resmi berstatus ibu kota.

“Jika resmi menjadi ibu kota terjadi penambahan populasi sekitar lima juta penduduk dengan kebutuhan air mencapai 10,93 mili kubik per detik. Ketersediaan air baku saat ini ditambah dengan pertumbuhan penduduk, maka akan terjadi defisit air baku 8,38 mili kubik per detik,” kata Pitojo, Kamis, (14/11/2019).

Pitojo mengatakan, pemerintah perlu menyiapkan skenario yang tepat untuk kebutuhan air baku. Dia menyarankan pemerintah memaksimalkan potensi sungai yang ada di kawasan Kalimantan Timur. Ada beberapa lokasi penghasil air baku yang bisa dimaksimalkan. Antara lain Embung Aji Raden, Intake Loa Kulu, Bendungan Samboja, Bendungan Lambakan, Bendungan Sepaku Semoi.

“Jika beberapa potensi itu bisa dimaksimalkan dan disiapkan dalam lima tahun ke depan, maka akan bisa menghasilkan tambahan air cukup signifikan sebesar 13,15 mili kubik per detik. Penerapan tersebut mutlak dilakukan untuk memaksimalkan potensi air baku,” tandasnya. [luc/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar