Politik Pemerintahan

Dianggap Bikin Kelilipen

PKB dan PKS Minta JFC Ditinjau Ulang

Cinta Laura saat mengikuti JFC (foto/dok humas)

Jember (beritajatim.com) – Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Keadilan Sejahtera melalui fraksi masing-masing di DPRD Jember, Jawa Timur, mengecam perhelatan Jember Fashion Carnaval. Kecaman itu disampaikan dalam sidang paripurna pandangan umum fraksi-fraksi terhadap Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah di DPRD Jember, Jawa Timur, Selasa (6/8/2019).

JFC adalah karnaval fesyen di atas jalan raya sepanjang 3,6 kilometer dan diikuti 600 orang model yang berasal dari warga biasa. Tahun ini adalah tahun ke-18 penyelenggaraannya. Saat ini perhelatan itu tengah ramai dibahas di media sosial masyarakat Jember, karena penampilan seksi dan terbuka sebagian pesertanya, terutama artis Cinta Laura.

Juru bicara Fraksi Kebangkitan Bangsa Imam Suyuti menyebut mata warga Jember terasa kemasukan debu. “Kelilipen,” katanya.

“Dari sisi penampilan, tidak pernah ajang JFC yang digelar sejak 2001 seheboh tahun ini. Dengan dalih ingin lebih go internasional lagi, kostum sebagian talent sudah tidak mencerminkan karakter dan budaya rakyat Jember,” kata Imam.

FKB menilai perhelatan fesyen tersebut sudah keluar dari jiwa masyarakat Jember yang relijius. “Apalagi Jember sudah mendapat predikat Kota Santri,” kata Imam.

“Kiranya kita sudah sepakat, bahwa tidak menutup paha laki-laki maupun wanita adalah sama dengan tidak menutup aurat. Apalagi yang terpampang di depan mata malah sampai pangkal paha,” kata Imam.

FKB kemudian mengecam penampilan seksi artis Cinta Laura. “Mendatangkan artis ibu kota hanya untuk mempertontonkan aurat adalah tindakan yang sangat disayangkan apapun dalihnya. Pertanyaannya: apakah ini yang dimaksud dengan Jember Kota Wisata Berbudaya yang masuk dalam 22 janji bupati dna wakil bupati. Lebih ironis lagi, pamer paha tersebut berlangsung di depan masjid kebanggaan rakyat Jember, yaitu Masjid Baitul Amin,” kata Imam.

PKB meminta kepada bupati untuk meninjau ulang perhelatan tahunan tersebut. “Termasuk dalam hal bantuan anggaran, khususnya yang bersumber dari APBD Kabupaten Jember,” kata Imam.

Apalagi, dalam pandangan PKB, dampak JFC terhadap peningkatan perekonomian Jember masih belum terbukti signifikan. “Setelah 18 tahun, apa ekonomi benar-benar meningkat signifikan gara-gara JFC?” kata Imam.

Juru Bicara Fraksi PKS Nur Hasan juga menyarankan adanya peninjauan ulang terhadap izin JFC. “Supaya kejadian-kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi. Kejadian beberapa hari lalu seolah-olah merobek ikatan yang ada di Kabupaten Jember. Kita terkenal di sini sebagai kota santri, ribuan pondok pesantren, ribuan alim ulama, termasuk Pak Wakil Bupati adalah seorang ulama,” katanya. Dia yakin, jika masih punya rasa ‘ke-Jember-an’, siapapun akan sepakat dengan ide PKS ini.

PKB berharap ada cara lain yang lebih bermartabat untuk membuat Jember terkenal. “Kenapa tidak memaksimalkan tembakau, kopi, dan kakao untuk mempromosikan Jember ke mata dunia, dan itu sangat mendongkrak perekonomian rakyat Jember, khususnya sektor pertanian,” kata Imam. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar