Politik Pemerintahan

Pendidikan Adalah Benteng Terakhir Pancasila

Surabaya (beritajatim.com) – Indonesia saat ini disebut sedang berada di tengah ancaman intoleransi. Hal itu pun membuat pemerhati sosial Dhimas Anugrah angkat bicara.

Dhimas mengatakan bahwa manusia memiliki sensus divinitatis atau semen religionis. “Jadi pada dasarnya kita sadar bahwa ada Tuhan. Secara natural manusia membutuhkan Tuhan, atau ‘Innate sense of God’ kalau pinjam istilah Karl Rahner,” ujarnya.

“Kebutuhan menyembah Tuhan itu telah dipenuhi oleh agama yang telah kita peluk masing-masing. Ada yang merasa cocok dengan agama A, agama B, atau agama C, semuanya itu rahmat bagi masing-masing. Maka sekarang jika kebutuhan spiritualitas kita sudah terpenuhi oleh agama yang kita peluk, kita tidak perlu menghina orang lain yang memeluk agama berbeda dari kita,” kata Dhimas lebih lanjut.

Pria yang juga Politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu pun mengimbau agar semangat perlu menghormati orang lain dan agama yang dipeluk adalah mutlak. “Karena orang lain adalah manusia yang punya martabat sama dengan kita, jadi sudah selayaknya kita memanusiakan manusia yang lain,” bebernya.

“Jika kita merasa merasa agama kita paling benar, itu baik, tetapi kita juga perlu bisa menerima realitas bahwa ada juga orang-orang yang memeluk agama lain dan mereka hidup damai di dalamnya. Jangan sampai kita merasa ‘insecure’ jika ada orang yang agamanya tidak sama dengan kita,” lanjut Dhimas.

Akar intoleransi, menurutnya adalah hati yang belum siap menerima keberagaman, lalu cenderung memaksa orang lain menjadi sama dirinya atau kelompoknya. Efeknya pasti akan merusak keharmonisan di tengah masyarakat.

“Itulah sebabnya PSI bertekad untuk melawan praktik intoleransi ini. Indonesia is in a deep crisis of intolerance. Kita tidak boleh membiarkannya semakin parah karena akan berakibat pada disintegrasi bangsa,” tegas pria asli Surabaya itu.

“Kita tentu masih bisa mengatasi situasi ini sehingga tidak terlanjur parah, tetapi ini membutuhkan energi dan keseriusan Pemerintah. Kita apresiasi Pemerintah yang telah dan sedang berupaya mengatasi ajaran dan ujaran kebencian berbasis agama yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi hal tersebut perlu ditingkatkan lagi,” imbuh pemerhati sosial yang studi di Oxford, Inggris.

“Pendidikan Pancasila perlu kita tekankan lagi sejak usia sedini mungkin. Pendidikan adalah benteng terakhir bagi ideologi Pancasila. Saya pikir Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama harus menjadi yang terdepan dalam upaya ini,” pungkas pria yang namanya digadang-gadang sebagai calon Wali Kota Surabaya itu. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar