Politik Pemerintahan

Pemimpin Milenial Tak Cukup Muda Saja

Suko Widodo (kanan), bersama dengan Cak Nun

Surabaya (beritajatim.com) –¬†¬†Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya masih tahun 2020. Namun, wacana siapa figur yang bakal menggantikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kian berkembang.¬†Salah satu yang ramai menjadi bahasan dalam Pilwali Surabaya adalah soal kepemimpinan milenial.

Pengamat politik dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya Suko Widodo menilai ada banyak kekeliruan dalam memandang kepemimpinan milenial. Kepemimpinan milenial itu bukan hanya pemimpin muda. “Itu sesuatu yang sangat beda,” tuturnya

Menurutnya, sekarang ini era disruption. Era ini mengharuskan manajemen pengelolaan yang tetap tak bisa meninggalkan aspek historikal dan menggabungkannya dengan masa depan. Kepemimpinan milenial meminta adanya penguasaan pengalaman kesejarahan dan membawanya ke prospek masa depan.

Karena itu, pemimpin milenial untuk Surabaya harus punya pengalaman dengan disertai bukti. Rekam jejak akan menjadi sumber utama rujukan pemilih. Baik rekam jejak personality maupun karyanya.

“Tak peduli dari mana berasal, apakah dari politisi, birokrat, pengusaha, akademisi atau apapun. Sepanjang ia punya bukti nyata atas karya yang bisa dirasakan publik, maka ia lah yang berpeluang terpilih,” ujarnya.

Pemilih sekarang, lanjutnya, tak mudah dipengaruhi oleh popularitas seseorang. Artinya, popularitas bukanlah jaminan untuk bisa terpilih dalam pilkada.

“Jadi, sosok Wali Kota Surabaya ke depan tak memandang usia. Tetapi, dia harus berpikir dan bisa memenuhi ekspektasi nuansa milenial,” tuturnya. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar