Politik Pemerintahan

NU Punya Kisah Harmonis Dengan Pemuda Kristen Papua

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur saat memberikan keterangan Pers. Foto: NU Online

Malang (beritajatim.com) – Hubungan harmonis antara Nahdatul Ulama dan penduduk Provinsi Papua berjalan guyub rukun selama puluhan tahun. Kisah-kisah kebersamaan itu diungkapkan oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Kiai Haji Marzuqi Mustamar.

Dia adalah sosok yang tahu betul tentang kondisi keberagaman serta kebersamaan umat muslim dan umat kristen di pulau paling timur Indonesia itu. Sebab, sang kiai rutin atau sangat sering menggelar pengajian dengan warga nahdliyin di Papua.

“Kalau dengan NU, saya berkali-kali ngaji disana kemana-mana yang mengantar juga ketua suku kadang-kadang. Pokoknya insyallah kalau NU tidak ada masalah,” ujar Marzuqi, Kamis, (22/8/2019).

Marzuqi menceritakan kehidupan warga nahdliyin dan warga papua berjalan damai dan tentram. Beberapa kegiatan ibadah warga muslim di Papua bahkan mendapat jaminan keamanan dari pemuda kristen disana. “Saya sering ada di Papua, mereka di Papua sangat mengerti NU. Mereka tidak membenci NU kalau salat Ied di Papua masjidnya dijaga oleh pemuda Kristen. Alasan mereka cukup simpel, karena di Jawa kalau mereka beribadah natal dijaga Banser. Jadi timbal baliknya pemuda kristen menjaga saat salat Ied,” papar Marzuqi.

Pimpinan Pondok Pesantren Sabiilul Rosyad, Gasek, Malang itu mengungkapkan meski di beberapa kota di Papua saat ini terjadi kerusuhan warga nahdliyin disana tetap bisa menjalankan aktivitas ibadah seperti biasa. Salah satunya adalah menggelar tahlilan.

Dia berharap konflik di Papua segera berakhir. Warganya diharapkan kembali hidup harmonis dalam bingkai kebhinekaan. Marzuqi juga mengimbau warga di Jawa Timur mampu hidup berdampingan dengan warga asal Papua seperti sedia kala.

Jangan ada aksi rasisme, jangan ada aksi pengusiran, serta jangan ada bentrokan antara mahasiswa Papua dengan warga seperti yang terjadi di Surabaya dan Malang beberapa waktu lalu. Sebab, semuanya merupakan anak kandung dari Ibu Pertiwi.

“Kalau aman di Jawa, minoritas kristen di Jawa pun bisa kebaktian dengan aman. Kalau aman di Papua, minoritas islam di Papua juga bisa Jumatan (salat Jumat) dengan aman di Papua. Sama-sama enaknya kan,” tandasnya. (luc/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar