Politik Pemerintahan

Media Online Tumbuh Subur, Tak Diimbangi Kualitas

Pamekasan (beritajatim.com) – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Abd Aziz menilai fenomena rendahnya kualitas produk berita (media) terjadi akibat sistem jurnalistik yang tidak berjalan dengan baik.

Hal itu terjadi khususnya pada media-media online baru yang mulai tumbuh subur di berbagai daerah di Indonesia, tidak terkecuali di empat daerah di Madura.  Ironisnya, sebagian besar bentuk produk berita yang diterbitkan cenderung mengabaikan etika jurnalistik.

“Media-media (online) baru semakin menjamur dan justru tidak menerapkan sistem jurnalistik, berita yang ditulis wartawan langsung dipublikasikan begitu saja tanpa ada proses pengeditan. Padahal tulisan jurnalis di lapangan belum semuanya siap (layak) tayang,” kata Abd Aziz, Jumat (8/2/2019) malam.

Bahkan tidak sedikit tulisan justru merusak tatanan bahasa Indonesia, seperti perbedaan ‘di’ sebagai petunjuk maupun ‘di’ sebagai kalimat pasif. “Memang hal ini tampak sepele, tapi sangat penting. Jika terus dibiarkan, maka ‘media juga menjadi penyumbang dalam merusak tata bahasa Indonesia’ yang seharusnya sesuai dengan ejaan yang telah disempurnakan,” ungkapnya.

Fenomena lainnya berupa adanya perubahan paradigma jurnalis sebagai sebuah profesi menjadi pekerja. “Sebagai profesi, tentu tidak semua orang bisa menjadi jurnalis karena harus melalui tahap pelatihan, seleksi ketat dan terukur. Perusahaan akan mengangkat calon jurnalis bila dinilai profesional dan sesuai dengan kebutuhan,” imbuhnya.

Namun ketika jurnalis hanya dipandang sebagai pekerja, maka siapapun yang bisa bekerja mudah menjadi jurnalis. “Makanya jangan heran kalau akhir-akhir ini banyak tukang tembel ban secara tiba-tiba menjadi jurnalis atau tukang jual kopi tiba-tiba menjadi jurnalis. Bahkan tukang sapu dan pembantu umum menjadi jurnalis,” sambung Aziz.

“Jadi fenomena ini terjadi karena adanya pergeseran paradigma dari sebagian perusahaan media. Mirisnya jurnalis dadakan ini, cenderung melampaui kapasitasnya sebagai pewarta atau reporter dan menganggap semua berita yang ditulis harus diuangkan. Kadang juga tidak jelas antara dia sebagai jurnalis atau marketing iklan,” sesalnya.

Di sisi lain pihaknya tidak bisa melarang keinginan mereka berperan untuk memiliki akses luas sebagaimana jurnalis ‘media-media arus utama’, karena bagaimanapun media sebagai salah satu elemen dan pilar penting negara.

Semisal di Pamekasan, Aziz menilai sejumlah birokrasi juga terkesan masih memberikan ruang. Apalagi kekuatan ‘intimedasi jurnalis’ terbilang cukup mempuni, sehingga aparatur ‘bermasalah’ cenderung mengakomodir sekaligus memberikan ruang khusus. “Kami sering menerima keluhan dari beberapa ASN, mereka menggunakan cara menekan dan bahkan mengancam untuk mendapatkan iklan. Datang bergerombol dan masuk dengan mengabaikan etika,” jelasnya.

“Tindakan seperti itu sebenarnya bukan merupakan jati diri sebagai jurnalis, tapi lebih para jati diri premanisme, dan hal ini tentu sangat merusak citra dan profesi jurnalis yang benar-benar menjalankan tugas-tugas jurnalistik secara profesional,” beber pewarta yang tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Media dan Komunikasi Unair Surabaya.

Tidak hanya persoalan sistem dan media, sebab tidak sedikit yang menjadi jurnalis demi kepentingan usaha yang tengah digelutinya. “Kelompok ini biasanya paling getol menolak upaya sistemik para profesional dalam bidang jurnalistik, seperti persyaratan UKW (Uji Kompetensi Wartawan) atau UKJ (Uji Kompetensi Jurnalis),” ungkap Aziz.

“Tidak hanya itu, sumber berita dari kelompok ini biasanya teman-teman LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan kelompok profesional dari akademisi justru terbaikan. Sehingga semua persoalan mulai dari politik, ekonomi, sosial dan agama sumber utamanya LSM yang notabene bukan ahli di bidangnya,” imbuhnya.

Dari itu, melalui momentum Hari Pers Nasional (HPN) 2019 pihaknya berkomitmen meningkatkan peran aktif pers dengan selalu mendorong profesionalisme dalam dunia jurnalistik. “Ini tentu komitmen baik yang harus kita dukung bersama, karena sistem yang buruk tentunya akan menghasilkan produk yang buruk pula. Semoga kedepan kita bisa berubah menjadi lebih baik,” pungkasnya. [pin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar