Politik Pemerintahan

Mangkrak, Sisa Material Proyek Bikin Kesal Warga Kota Mojokerto

Kondisi salah satu proyek pembuatan saluran air tengah (U Getter) di Gang Kalimati IV, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto yang diputus kontrak. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Ada delapan proyek normalisasi saluran air senilai Rp5,5 miliar di Kota Mojokerto diputus kontrak karena proses pengerjaan proyek dinilai tidak beres dan melebihi target dari jadwal yang sudah ditentukan. Warga pun dibuat kesal karena proyek tersebut mangkrak.

Seperti proyek pembuatan saluran air tengah (U-Gutter) di Gang Kalimati IV, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto mangkrak. Proyek U-Gutter yang dikerjakan oleh kontraktor CV Araya asal Sidoarjo tersebut nilai realisasi sebesar Rp434.135.000.

Salah satu warga, Sunar (52) mengatakan, keberadaan proyek yang terbengkalai itu sangat menganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi. “Karena kondisi beton penutup U-Gutter tidak rata sehingga menganggu kenyamanan pengguna jalan yang lewat,” ungkapnya, Sabtu (18/1/2020).

Masih kata Sunar, pengerjaan proyek baru sekitar 300 meter dan tersisa sekitar 200 meter dari panjang jalan tersebut. Kedalaman saluran air sekitar 80 sentimeter dan lebar 50 sentimeter. Selain mangkrak, pembangunan proyek tersebut juga menyumbat saluran air dari rumah warga.

“Kalau dilewati motor, ya tidak nyaman jadi goyang seperti naik kuda. Saluran air dari rumah warga dulu berfungsi, sekarang gara-gara pengerjaan proyek ini jadi tidak berfungsi terkena material proyek. Sebenarnya tidak begitu efektif karena di pinggir jalan gang sudah ada selokan air,” ujarnya.

Selokan air di pinggir jalan gang menurutnya, masih berfungsi untuk mengalirkan air jika hujan. Warga berharap pengerjaan proyek tersebut selesai agar aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tidak terganggu. Hal tersebut juga diungkap warga lainnya, Masud (46).

“Kita berharap pihak yang berwenang bertanggungjawab untuk mengembalikan jalan ini seperti sedia kala. Kalau bisa diaspal mulus seperti dulu lagi tidak seperti ini kesannya dibiarkan begitu saja,” pungkasnya.

Sebelumnya, sedikitnya ada sebanyak delapan proyek normalisasi saluran air tahun 2019 senilai Rp5,5 miliar di Kota Mojokerto diputus kontrak. Ini lantaran, proses pengerjaan proyek tersebut dinilai tidak beres dan melebihi target dari jadwal yang sudah ditentukan.

Proyek tersebut dikerjakan empat kontraktor asal Sidoarjo yang diputus kontrak. Hal ini diketahui saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Inspektorat dan Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Kota Mojokerto di ruang sidang DPRD Kota Mojokerto. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar