Politik Pemerintahan

Dialog Publik Universitas Jember - PWI

Legislator DPRD Jatim: Jember Terkenal Karena Silpa

Dialog publik mengenai APBD yang diselenggarakan Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Jember dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), di Gedung Kauje, Kabupaten Jember, Selasa (13/8/2019). (Dok humas unej)

Jember (beritajatim.com) – Legislator DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Gerindra Muhammad Fawait mengatakan, semakin besarnya sisa lebih penggunaan anggaran (silpa) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Jember menghambat pertumbuhan ekonomi. Tahun 2016, silpa APBD Jember mencapai 453 miliar. Tahun 2017, silpa bertambah menjadi Rp 617 miliar, dan tahun 2018 menjadi Rp 713 miliar.

“Semakin anggaran pemerintah tak tersalurkan dengan baik, maka pertumbuhan ekonomi tidak baik. Ketika pertumbuhan ekonomi kita tidak baik, maka akan meningkatkan pengangguran. Ketika pengangguran naik, maka kemiskinan naik. Jadi ketika silpa semakin naik, maka itu kezaliman, dan ketika kezaliman terjadi, maka yang bisa meruntuhkan kezaliman adalah mahasiswa dan media,” kata Fawait, dalam dialog publik mengenai APBD yang diselenggarakan Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Jember dan Persatuan Wartawan Indonesia, di Gedung Kauje, Kabupaten Jember, Selasa (13/8/2019).

Fawait mengaku kaget dengan pemerataan pertumbuhan ekonomi di Jember. “Ternyata di Jember ketimpangan semakin tinggi. Artinya APBD yang silpa-nya semakin banyak, hanya dinikmati sebagian kecil rakyat Jember. Pemerataan tidak semakin merata. Di situlah saya katakan zalim. Sudah APBD-nya tidak terserap dengan baik, yang terserap tidak untuk masyarakat banyak,” katanya.

Fawait heran mengapa selama empat tahun pemerintahan Bupati Faida, silpa semakin tinggi. Terakhir, akumulasi silpa mencapai Rp 700 miliar lebih. “Dan yang terkenal di Jawa Timur ketika saya menyebut Jember, (orang bilang) ‘oh yang sering ribut-ribut itu ya?’. Kalau dulu Jember terkenal suwar-suwir, prol tape, cerutu. Kalau sekarang yang terkenal ‘silpa ya? silpa ya?’,” katanya.

Fawait mengingatkan, Jember adalah salah satu kabupaten terluas di Jatim. “Apapun yang terjadi di Jember, apalagi di sektor pertanian, akan berpengaruh pada perekonomian di Jawa Timur. Sementara Jawa Timur adalah salah satu barometer perekonomian nasional. Artinya apapun yang terjadi di Jawa Timur akan berpengaruh terhadap ekonomi nasional. Ketika apapun di Jember dibiarkan begitu saja, bukan cuma menzalimi masyarakat Jember, tapi juga menzalimi masyarakat Jawa Timur,” jelasnya.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Jember Nurul Hafid Yasin yang mewakili Bupati Faida dalam acara itu menjelaskan faktor regulasi sebagai salah satu penyebab rendahnya serapan. “Ada perubahan regulasi di tingkat nasional,” katanya.

Namun, saat moderator Hari Setiawan menanyakan regulasi mana yang dimaksud, Hafid tak bisa menjawab. “Jangan dipaksa untuk menjawab. Kasihan,” kata Wakil Ketua DPRD Jember Ayub Junaidi yang juga hadir sebagai narasumber dalam forum dialog yang disiarkan langsung oleh Radio Prosalina, Kiss FM, K Radio, dan Jember1 TV ini. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar