Politik Pemerintahan

Mungkinkah Polarisasi Pilgub DKI Jakarta Muncul di Pilwali Surabaya?

Foto ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Meski koalisi Pilgub DKI Jakarta memiliki kemungkinan untuk muncul di Pilwali Surabaya, Sosiolog politik asal UNESA Agus Mahfud Fauzi yakin jika polarisasi tidak akan terjadi. Di Jakarta, polarisasi terjadi secara massif ketika Pilkada dilangsungkan.

“Secara kultur, ada perbedaan antara tiap daerah. Terlebih lagi, antara DKI Jakarta yang mirip dengan nasional dibandingkan Kota Surabaya,” ujar Agus, Rabu (3/7/2019).

“Saya melihatnya, kultur masyarakat di Surabaya ini cenderung lebih adem. Jadi kemungkinan polarisasi tidak akan terjadi ketika momen Pilwali Surabaya,” tambahnya.

Meski begitu, Agus memberikan catatan secara khusus terkait kemungkinan terjadinya polarisasi di Pilwali Surabaya. “Semua itu, kembali lagi, bergantung figur yang berkontestasi,” tegasnya.

Sebelumnya, Agus berpendapat jika koalisi PKS dan Gerindra seperti pada Pilgub DKI Jakarta sangat mungkin muncul di Pilwali Surabaya. Masing-masing PKS dan Gerindra mendapatkan 5 kursi di DPRD Surabaya pada Pileg 2019 lalu. Sementara, syarat untuk bisa mengajukan paslon sendiri adalah 20 persen dari 50 kursi yang sama dengan 10 kursi.

“Meskipun Jakarta yang notabene sama seperti nasional ini berbeda dengan Surabaya, tapi secara umum keduanya berkoalisi itu sangat mungkin. Terlebih lagi, di Pilpres lalu keduanya sangat harmonis,” ujar Agus.

Koalisi keduanya pun dipandang mampu merebut kursi Wali Kota Surabaya. “Sekarang tinggal melihat bagaimana figur yang diajukan. Karena, bagaimanapun yang diutamakan adalah figur,” jelasnya.

Sebagai informasi, peluang PKS merebut kursi Wali Kota Surabaya terbuka melalui riset yang dilakukan oleh pakar komunikasi politik asal UNAIR Suko Widodo. Nama politisi PKS Reni Astuti dianggap lebih memiliki peluang dari dua Srikandi Politik lainnya, Puti Guntur dan Indah Kurnia.

“Reni punya relasi sosial yang kental karena tingkat interaksinya dengan warga cukup intensif, relasi sosial dua kandidat PDIP kurang intensif. Karena lebih beraktivitas di Jakarta,” ujar Suko. [ifw/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar