Politik Pemerintahan

Kader NU Diharapkan Bisa Jabat Ketua DPRD Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 50 anggota DPRD Surabaya yang baru siap menghuni Gedung Yos Sudarso. Jika tidak ada aral melintang, prosesi pelantikan akan digelar Sabtu (24/8/2019).

Pasca pelantikan, susunan perangkat dewan mulai dibentuk. Dari jumlah perolehan kursi, PDIP menjadi partai pemenang. Yakni, 15 kursi di parlemen.

Praktis jabatan Ketua DPRD Surabaya akan kembali diduduki kader partai berlambang Kepala Banteng Moncong Putih itu. Sementara untuk porsi Wakil Ketua akan diperebutkan oleh empat fraksi. Yakni, Gerindra, PKS, PKB dan Golkar. Masing-masing memiliki kekuatan yang sama, yaitu lima kursi.

Meski belum meraih total kursi maksimal, namun Partai Nasdem berharap PDIP bisa mendudukkan kader partai dari kalangan Nahdliyin. “Meski tidak harus juga. Namun kalau bisa itu malah bagus,” tutur Politisi Nasdem, Imam Syafii.

Mengapa harus dari kalangan Nahdliyin? Ditemui seusai Gladi Bersih Pelantikan Anggota DPRD Surabaya, Rabu (21/8/2019), mantan Ombudsman Harian Jawa Pos ini mengatakan, masih ada warga Nahdliyin yang kehidupannya menengah ke bawah.

“Maka itu tugas berat. Kalau kita ngomong gerakan masyarakat Surabaya adalah warga Nahdliyin yang terbanyak di dalamnya,” imbuh Penasehat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim ini.

Ia menerangkan, legislator merupakan mitra dari Pemerintah Kota Surabaya. Tentunya komunikasi yang terjalin antara eksekutif dan legislatif harus mesra.

Mantan Jurnalis Senior ini menilai, pengalaman sebelumnya menunjukkan belum adanya kekompakkan.”Antara Walikota dengan Ketua DPRD-nya kurang cek and balance, meski satu partai,” ucap Imam.

DPRD, kata Imam, harus bersifat kritis. Sebab mempunyai peran penting dalam mengemban amanah warga Surabaya. “Kita ingin jadi mitra kritis. Dewan punya peran penting. Sesuai dengan tagline 100 Tahun Indonesia SDM maju dan unggul,” tegasnya. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar