Politik Pemerintahan

Jelang Debat, Isu HAM Menghantui Prabowo

Surabaya (beritajatim.com) – Isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) kembali ramai dibicarakan menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Sebab, selama ini tidak ada peradilan khusus menyelesaikan masalah ini.

Pengamat Politik dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai capres nomor urut 02 Prabowo Subianto paling dirugikan atas isu pelanggaran HAM. Ketua Umum Partai Gerindra itu diduga terlibat pelanggaran HAM masa lalu.

“Ketika 2014 Prabowo maju, isu HAM muncul, sekarang muncul lagi. Jadi, ini (isu HAM) hantu bagi Prabowo, karena tidak ada peradilan khusus menyelasaikan kasus HAM. Ini persoalan,” kata Ujang.

Pilpres 2019 seperti pertandingan ulang antara Jokowi dan Prabowo pada Pilpres 2014. Menurut Ujang, baik Jokowi maupun Prabowo pasti sudah punya pemilih masing-masing. Tetapi, masyarakat yang belum menentukan pilihan jumlahnya cukup banyak.

Capres mana yang bisa menarik perhatian masyarakat yang belum menentukan pilihan? Kedua pasangan sama-sama punya peluang merebut suara kelompok ini.

Tapi kalau isu HAM terus bergulir, Ujang menilai akan sulit bagi Prabowo dalam menaikkan elektabilitasnya. “Ini akan jadi beban masa lalu, sekarang dan masa depan kalau tidak tuntas,” tegas Ujang.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur Riset ELSAM Wahyudi Djafar mengatakan, masalah penuntasan kasus HAM merupakan warisan pemerintahan sebelum Jokowi. “Selama 10 tahun ada kemandegan penyelesaian kasus kemanusiaan masa lalu,” katanya.

Dia mengatakan, pada 2009 DPR mengeluarkan rekomendasi: cari orang hilang, bentuk pengadilan ad hoc, ratifikasi konvensi penghilangan orang secara paksa dan pemulihan bagi korban.

“Tapi pembentukan pengadilan ad hoc belum terlaksana. Ini sulit terurai untuk menyelesaikan kasus kemanusiaan masa lalu,” ujarnya.

Menurutnya, pada 2014 Presiden Jokowi berkomitmen menyelesaikan kasus HAM masa lalu. “Tapi ketika ada simposium 1965, justru berlangsung simposium tandingan. Sehingga inisiatif itu diserang isu komunisme,” tegas Wahyudi. [tok/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar