Politik Pemerintahan

Ini Hasil Riset iPOL di Enam Pilkada, Whisnu dan Ery Bersaing di Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 19 kabupaten/kota di Jawa Timur akan menggelar Pilkada secara serentak pada September 2020. IT Research and Politic Consultant (iPOL) Indonesia telah memiliki daftar nama yang berpotensi menjadi kandidat terkuat di Jatim, khususnya Surabaya.

“Daftar nama yang dimiliki iPOL berasal dari pantauan elemen Big Data, yaitu pemantauan dinamika isu, baik di media online maupun di media sosial. Khusus untuk elemen Big Data, iPOL menggunakan program bernama IDS, yaitu Intelligent Dynamic Signal,” kata CEO iPOL Indonesia, Petrus Hariyanto didampingi Direktur IDS (IT Development and Solutions), Slovenia kepada wartawan di Hotel Aria Centra Surabaya, Kamis (14/11/2019).

Menurut dia, fungsi utama IDS adalah meng-crawling data open sources, yang disertai dengan visualisasi sesuai dengan cluster data yang dibutuhkan. Data yang ada di IDS adalah data dinamis, dapat bertambah setiap waktu dan bersifat real-time.

iPOL mengelompokkan Pilkada serentak di Jatim menjadi lima wilayah, pertama ‘Tlatah’ Arek, kedua Tapal Kuda, ketiga Pantura, keempat Mataraman dan kelima Madura. Masing-masing wilayah, untuk sementara ini diwakili oleh satu kota/ kabupaten.

Untuk wilayah Arek, iPOL memantau Kota Surabaya dan Kabupaten Mojokerto. Sedangkan Tapal Kuda memantau Kabupaten Jember, Kabupaten Lamongan untuk Pantura, Kabupaten Ngawi untuk Mataraman, serta Sumenep untuk wilayah Madura.

Berdasarkan pantauan iPOL Indonesia dengan memanfaatkan teknologi IDS, ditemukan bahwa Pilkada Kota Surabaya menjadi yang paling banyak diberitakan. Hal ini tidak terlepas dari sosok Wali Kota Tri Rismaharini, sehingga mempengaruhi perhatian publik atas siapa kandidat yang layak menggantikan Risma.

Selain itu, isu yang berkembang dipengaruhi oleh munculnya sejumlah nama tokoh nasional yang dikabarkan akan maju sebagai bakal calon Wali Kota Surabaya.

Kandidat yang digadang sebagai calon potensial dalam Pilkada Surabaya, di antaranya Whisnu Sakti Buana (Wakil Walikota Surabaya), KH Zahrul Azhar alias Gus Hans (Sekjen JKSN, Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jatim), Ery Cahyadi (Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya), Wahyudin Husein (tokoh NU), Ngatmisih SH MHum (Mantan Kepala BPN Bangkalan), Dhimas Anugrah (Politisi Muda PSI), Armudji (Anggota DPRD Jatim) dan Lia Istifhama (kader PPP dan keponakan dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa).

Berdasarkan analisa rekam jejak dari masing-masing tokoh, terdapat tiga nama yang paling potensial menurut iPOL. Berdasarkan pantauan media, Whisnu Sakti Buana memiliki popularitas tertinggi, dengan jumlah ekspos 43 persen dalam dua bulan terakhir.

Selanjutnya, Ery Cahyadi sebagai Kepala Bappeko Surabaya yang kerap kali diberitakan media massa memiliki kedekatan dengan Tri Rismaharini. Ekspos Ery Cahyadi dalam dua bulan terakhir sebanyak 21 persen berita dari keseluruhan bakal calon yang terpantau maju dalam Pilwali Surabaya.

Tak bisa dipungkiri, sedikit banyak Ery Cahyadi sebagai Kepala Bappeko memiliki peran dalam pembangunan Kota Surabaya yang mengedepankan konsep Kota Modern dan label Green Smart City dan telah mendapatkan berbagai penghargaan di level internasional.

“Rekam jejak antara Whisnu Sakti dengan Ery Cahyadi sedikit berbeda, terutama jika dikaitkan dengan Risma. Whisnu sempat diterpa rumor tidak harmonis dengan Risma, salah satunya pada tahun 2011 terkait penghitungan nilai sewa reklame. Sedangkan Ery dicitrakan kerap mendampingi Risma dalam berbagai acara, sehingga berpotensi positif terhadap popularitasnya di kalangan masyarakat,” jelasnya.

Khusus untuk Pilkada Surabaya, ada calon alternatif yang ditemukan oleh Tim iPOL di lapangan, yaitu Cak Har. Cak Har atau Harianto merupakan Ketua Peradi Kota Surabaya. Terkait pencalonan di Partai NasDem, nama Cak Har masuk ke dalam tiga besar nama yang akan direkomendasikan oleh Partai NasDem untuk diusung sebagai Bakal Calon Walikota di Pilkada Surabaya.

Sedangkan untuk Kabupaten Mojokerto, tokoh petahana, Pungkasiadi yang saat ini menjabat sebagai Wabup Mojokerto memiliki popularitas tertinggi, yaitu 90 persen dari keseluruhan ekspos kandidat atau sebanyak 472 berita dalam dua bulan terakhir. Potensi kandidat pesaing dari Pungkasiadi, kemungkinan berasal dari calon yang diusung PKB, ataupun Yoko Priyono (2 persen popularitas atau 11 berita) sebagai Kadis Koperasi dan UMKM.

Dari wilayah Tapal Kuda, IPOL memantau di Kabupaten Jember. Calon petahana, Faida sebagai Bupati Jember, memiliki popularitas tertinggi (67 persen). Namun, isu yang mengiringi Faida mengarah ke negatif, yaitu terkait kekecewaan karena tidak ada rekrutmen CPNS di Kabupaten Jember. Kandidat penantang terkuat yang muncul dari pantauan iPOL hingga saat ini yaitu Djoko Susanto (12 persen berita).

Partai Gerindra, PKB, Perindo dan Berkarya yang sepakat berkoalisi pada Pilkada Jember 2020, memunculkan nama Djoko Susanto. Sedangkan Partai Berkarya, Perindo dan Gerindra melalui pernyataan masing-masing ketua DPC telah menyatakan siap memenangkan Djoko Susanto dalam Pilkada Jember 2020.

Bergeser ke Pantura, dengan pantauan di Kabupaten Lamongan. Calon incumbent, Kartika Hidayati yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Lamongan, masih menjadi bakal calon dengan popularisme tertinggi (43 persen). Namun, seminggu terakhir, anak Bupati Lamongan, Deddy Noerdiawan mulai gencar muncul ke media dengan mengangkat isu Zero Stunting.

Terdapat dua nama kandidat yang berpotensi menyaingi popularitas Kartika Hidayati, yaitu pertama, Sholahuddin yang dikenal sebagai asisten pribadi Wapres RI KH Ma’ruf Amin dan telah mendapat restu dari PCNU Kabupaten Lamongan. Kedua, Yuhronur Effendi yang saat ini menjabat Sekdakab Lamongan.

“Yuhronur menjadi kandidat terpopuler, karena terkenal di kalangan kelompok milenial, seperti Lamongan populer (komunitas Instagram), Lamongan vespa club (LVC), Anjasmoro LA (komunitas burung berkicau), eropa fans club (komunitas sepakbola), serta kalangan mahasiswa Lamongan,” papar Petrus.

Hasil pantauan iPOL di Kabupaten Ngawi, nama Wakil Bupati, Ony Anwar Harsono masih menjadi bakal calon terpopuler. Ony tidak hanya lebih dikenal dibandingkan kandidat lainnya, tetapi juga kemungkinan terkuat, karena mendekat ke PDIP, NasDem dan Gerindra. Ony juga telah menggandeng Bacalon Wabup Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko yang saat ini Ketua DPRD Kabupaten Ngawi.

Para penantang petahana yang patut untuk dipertimbangkan antara lain Syamsul Wathoni, mantan Ketua KPU Ngawi selama dua periode yang mendaftar melalui Partai Nasdem dan Jumirin mantan Kepala Desa Klitik, Kecamatan Geneng, Ngawi yang turut mendaftar di Partai NasDem.

Untuk wilayah Sumenep, PKB diprediksi masih sebagai partai terkuat yang akan menjadi rujukan dari sejumlah bakal calon Bupati Sumenep. Berdasarkan pantauan iPOL Indonesia, sejumlah nama yang memiliki peluang cukup tinggi dalam Pilkada Sumenep di antaranya Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi, Kepala Dishub Provinsi Jatim Fattah Jasin, Presiden Madura United Achsanul Qosasi, Ketua Perempuan Bangsa (PB) DPC Kabupaten Sumenep Hj Nurfitriana Busyro (Bunda Fitri), Ketua DPC PKB Sumenep Imam Hasyim, Ketua PCNU Sumenep Kiai A Pandji Taufiq dan mantan anggota DPR RI, KH Unais Ali Hisyam.

“Berdasarkan hasil survey daring yang telah dilakukan iPOL Indonesia, Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi memiliki tingkat popularitas tertinggi (sebesar 71 persen) dibandingkan kandidat lainnya. Namun demikian, muncul nama Ketua PB DPC Sumenep sekaligus istri dari Bupati Sumenep A Busyro Karim, Hj Nurfitriana Busyro yang memiliki persentase popularitas sebesar 11 persen dalam sorotan isu Pilkada Sumenep,” pungkasnya. [tok/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar