Politik Pemerintahan

Indonesia Jalin Kerjasama dengan Laos di 4 Bidang

Delegasi Laos saat meninjau PG Gempolkrep di Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Foto: misti/beritajatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Indonesia menjalin kerjasama dengan Laos di empat bidang. Bidang kereta api dan railway, bidang agrikultur, bidang pertambangan timah dan potasium serta pemilihan batubara dengan nilai investasi kerjasama diproyeksikan mencapai Rp 28 triliun.

Delegasi dari Laos meninjau proses produksi gula di Pabrik Gula (PG) Gempolkrep milik PTPN X di Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Delegasi dari pemerintah Laos yaitu Alounkeo Kittikhoun, Menteri dari Kantor Perdana Menteri Laos dan Somboun Phongsavanh, Ketua Komite Pemegang Saham Pongsavanh Group.

Perusahaan minyak asal Laos. Rombongan disambut Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo dan General Manager (GM) PG Gempolkrep beserta jajarannya. Delegasi dari Laos juga sempat melihat langsung produksi gula kristal di dalam pabrik yang berdiri 1912.

Kunjungan delegasi Laos tersebut sebagai tindak lanjut MoU antara Indonesia dengan Laos. Untuk itu Menteri dari Kantor Perdana Menteri hari ini membawa tiga wakil menterinya dari bidang pertanian, publik works dan bidang penanaman modal.

Duta Besar Indonesia untuk Laos, Pratito Soeharyo mengatakan, kerja sama di empat bidang tersebut kerjasama meliputi bidang kereta api dan railway dari mulai Vietnam ke Laos, bidang agrikultur, bidang pertambangan timah dan potasium, serta pemilihan batubara untuk pembangkit listrik di Laos.

“Total nilai investasi ini hampir mencapai 2 billion USD atau kurang lebih Rp 28 triliun. Salah satu kerjasama bidang agrikultur yang akan dijalin Indonesia dengan Laos dalam produksi gula kristal putih,” ungkapnya, Senin (26/8/2019).

Masih kata Pratito, delegasi Loas berkunjung ke PG Gempolkrep untuk melihat kemajuan teknologi Indonesia yang akan digunakan di Laos. Rencananya, Laos akan menyediakan lahan di negaranya untuk membangun pabrik gula dengan kapasitas giling minimal 10.000 TCD.

“Sementara pembangunan hingga pengoperasian pabrik gula tersebut akan bekerjasama dengan Indonesia. Produk gula pabrik tersebut akan dijual di Laos dan sekitarnya, Tiongkok serta di Indonesia sendiri. Mereka meminta Indonesia untuk membantu supaya mereka bisa marketing di sana,” katanya.

Di samping itu, lanjut Pratito, produk Laos juga bisa memenuhi pasar di Indonesia yang dinilai saat ini kurang. Pratito berharap, pasca kunjungan delegasi Laos di tanah air, kerjasama yang sudah disepakati bisa segera direalisasikan. Selain itu, investasi Indonesia di Laos diharpkan lebih lancar.

“Jadi sebagai produksi Indonesia untuk ketahanan pangan. Ini adalah kesempatan pertama Indonesia untuk investasi di negara-negara CLMV, Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam,” tegasnya. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar