Politik Pemerintahan

HOS Cokroaminoto dan KH. Hasyim Asy’ari Jadi Nama Jalan di Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Ada dua nama jalan baru di ruas jalan di Ponorogo. Pertama diberi nama jalan Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto yang membentang dari perempatan pasar legi sampai ke pertigaan ngepos. Dulunya wilayah itu bernama jalan Soekarno-Hatta, namun karena terlalu panjang akhirnya yang bagian selatan perempatan pasar legi diganti nama jalan baru tersebut.

“Pemberian nama HOS Cokroaminoto itu pertimbangannya sederhana, kami ingin memberi penghargaan kepada pahlawan nasional tersebut,” kata Bupati Ipong Muchlissoni, Jumat (12/7/2019).

Ipong menyebut HOS Cokroaminoto adalah putra terbaik Ponorogo, beliau merupakan perintis dan pendiri negara ini. Di daerah lain namanya dijadikan jalan-jalan protokol. Nah, di Ponorogo sendiri malah belum ada. Ipong menyebut di Madiun itu terkenal sekali jalan Cokro, malah juga ada bluder cokro. “Sejak awal-awal menjabat bupati ini saya soroti. Di daerah lain memberi penghargaan, masa di Ponorogo tidak?” katanya.

Dan alternatif yang bisa diganti ya di jalan Soekarno-Hatta itu, karena jalannya terlalu panjang. Jadi juga tidak menghilangkan jalan Soekarno-Hatta yang merupakan pahlawan proklamator. Selain itu di jalan HOS Cokroaminoto ini, beliau juga pernah tinggal disitu. Tepatnya sekarang yang menjadi gedung SMPN 1 Ponorogo. “Selain HOS Cokroaminoto juga ada jalan baru bernama jalan KH. Hasyim Asy’ari,” ungkap Ipong.

Jalan KH. Hasyim Asy’ari mengganti jalan alun-alun barat. Pertimbangannya, kata Ipong sama. Beliau juga pahlawan nasional yang patut diberi penghargaan. Selain itu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu, kata Ipong sumbangsihnya pada negara ini tidak perlu diragukan lagi.

“Sebenarnya ingin memilih jalan Hasyim Asy’ari itu di jalan Sultan Agung. Tetapi saya rasa secara sosiologi bisa menimbulkan sedikit kegaduhan. Karena Sultan Agung juga pahlawan nasional. maka yang paling tepat mengganti jalan alun-alun barat saja,” ungkapnya.

Saat ditanya apakah pengurusan pergantian jalan ini ribet. Karena harus mengurus segala administrasinya. Ipong menyebut ribet. Namanya juga merubah sesuatu apalagi nama jalan pasti ribet. “Tapi kan ribetnya tidak seribet, saat beliau-beliau berjuang untuk meraih kemerdekaan dulu,” pungkasnya.(end/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar