Politik Pemerintahan

GO: Wirausaha Adalah Solusi Kurangi Tingkat Pengangguran

Surabaya (beritajatim.com) – Menuju manusia Indonesia unggul seperti cita-cita Presiden Jokowi membutuhkan langkah-langkah nyata. Salah satunya dengan mendorong generasi milenial untuk berwirausaha secara kreatif, inovatif, dan terukur.

Dalam acara “GO Talk: Menjaga Keutuhan Bangsa dengan Gerakan Milenialpreneur” di Warung Pilem, Surabaya (21/9/2019), Dhimas Anugrah, pemerhati sosial dari Generasi Optimis (GO) Indonesia, mengatakan bahwa wirausaha merupakan alternatif solusi untuk menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan kemiskinan di Indonesia.

“Pengangguran me­rupakan masalah krusial dan fundamental yang mem­punyai efek langsung terha­dap mentalitas sebuah negara, termasuk Indonesia. Pengangguran bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain jumlah tenaga kerja dan lapangan pekerjaan yang tak seimbang, PHK, persaingan pasar global, kemalasan, dan lainnya.”

Intelektual muda Surabaya yang studi doktoral di Oxford, Ingggris itu menambahkan, “TPT per Februari 2019 ada di angka 5.01 persen dari tingkat partisipasi angkatan kerja di Indonesia. Menurut BPS angka ini membaik dibanding Februari 2018 yang sebesar 5.13 persen.”

Sekalipun TPK membaik dari tahun lalu, menurut Dhimas, TPK 5.1 persen tetap harus diatasi agar angka tersebut semakin rendah tahun 2020. Sebab tingginya tingkat pengangguran akan berdampak pada ekonomi masyarakat sekaligus menaikkan grafik angka kemiskinan.

“Kemiskinian akan berujung pada mentalitas yang buruk, yang akan meningkatkan tingginya angka kriminalitas, kecemburuan sosial, dan konflik di tengah masyarakat yang bisa terek­spresikan dalam tindakan anarkis,” kata Dhimas.

Mengutip Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Dhimas mengatakan bahwa ke­miskinan menjadi lahan su­bur tumbuh kembangnya radikalisme serta anarkisme dan menyebabkan rendah­nya produktivitas.

Kondisi tersebut menghasilkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ren­dah dan pada akhirnya akan sulit berkompetisi serta sulit mendapatkan akses untuk ber­saing di dunia usaha maupun dunia kerja.

“Rendahnya produktivitas akan mempengaruhi daya saing secara nasional yang berkorelasi langsung dengan kualitas keta­hanan nasional,” ujar Dhimas.

Lebih lanjut pria kelahiran Surabaya itu menga­takan, berdasarkan sejumlah studi, tingkat kemiskinan atau kesenjangan yang tinggi atau banyaknya permasalahan so­sial di masyarakat bisa meng­ganggu ketahanan nasional.

Kemiskinan membuat orang lebih rentan terhasut oleh provokasi makar, radikalisme, dan sentimen SARA, imbuhnya.

Karena itu, Dhimas mengatakan, ikhtiar wirausaha merupakan alternatif solusi bagi masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan sosial yang ada.

“Saya mengapresiasi sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi yang berfokus dan mendorong anak-anak didik mereka untuk berwirausaha. Walaupun memang tidak semua dari kita memiliki bakat berwirausaha. Tetapi setidaknya kita perlu melihat peluang ke arah sana,” kata Dhimas.

“Gerakan milenialpreneur saya pikir adalah sebuah ikhtiar suci yang niscaya bisa kita lakukan agar masyarakat kita bebas dari kemiskinan, dan Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih maju,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Dalam acara tersebut turut hadir sebagai narasumber Niluh Djelantik (influencer dan pengusaha), Frans Meroga (pakar koperasi dan ekonomi milenial) dan Gus Aan Anshori (Intelektual muda NU dan aktivis GUSDURian). (ifw/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar