Politik Pemerintahan

Fandi Utomo: Surabaya Bisa Kembali Jadi Pusat Industri Global

Surabaya (beritajatim.com)  – Kota Surabaya ternyata pernah berada di zaman keemasan di dunia industri. Bahkan hasil industri dari Surabaya mampu menguasai pasar international. Hal itu diungkapkan Dr Andi Achdian, sejarawan dari Universitas Nasional saat menggelar diskusi dengan Caleg DPR RI asal PKB untuk Dapil Jatim 1 Surabaya-Sidoarjo dengan nomor urut 3 Fandi Utomo. Acara itu dihadiri muda-mudi Surabaya.

Andi menyampaikan, perkembangan Surabaya modern masuk pada awal abad ke 19 dengan munculnya industri-industri berat seperti peleburan baja dan logam serta kimia dan banyak lagi.

“Puncaknya di awal abad 20 industri di surabaya berkembang pesat, bahkan mampu menjadi pusat industri di Hindia-Belanda. Saat itu surabaya mampu menghasilkan galangan kapal, tenk baja, alat-alat militer dan banyak lagi hingga hasil industrinya sepadan dengan sentra-sentra industri di Asia seperti Osaka Jepang, Shanghai China dan bombai India, dan industri surabaya sudah di level international bahkan menjadi bagian dari industri global,” ungkap pria yang juga pernah menjadi dosen UI (universitas Indonesia) itu.

Andi menegaskan, Surabaya juga mampu memenuhi kebutuhan sepertiga gula yang diproduksi India. “Surabaya berkembang pesat dan mampu berintegrasi dengan daerah-daerah di jatim seperti Jombang, Madiun dan sejumlah daerah lain yang hasil produknya di pusatkan di surabaya lalu di expor ke sejumlah negara,” tutur Direktur Institut Ong Hok Ham ini.

Namun, Andi mengatakan saat ini Surabaya sudah tidak pada posisi itu dan tidak lagi menjadi bagian dari perkembangan industri global. “Surabaya sebenarnya memiliki berbagai potensi untuk bisa kembali berjaya di dunia industri, apalagi surabaya memiliki gaet Pasifik dan memiliki kekuatan maritim yang bisa menjadi dasar lompatan surabaya untuk kembali menjadi bagian dari industri global,” imbuhnya.

Sementara itu, Fandi Utomo menuturkan jika perkembangan kota ini tidak mengikuti prinsip perencanaan jangka panjang. Sejak perkembangan industrialisasi Belanda berhenti di kawasan Ngagel dan sekitarnya, Surabaya baru memiliki kawasan industri tahun 70an di rungkut dan Margomulyo, dan industri tidak lagi dikelola swasta tapi pemerintah melalui BUMN.

“Penting memikirkan kembali industrialisasi di surabaya apalagi problematika yang dihadapi surabaya yang utama adalah pengangguran, kesempatan kerja, turunnya daya beli secara berkelanjutan, kegelisahan soal pendidikan dan kesehatan, ini semua harus mendapatkan solusi yang fundamental,” ungkap politisi yang juga didorong maju Pilwali Surabaya oleh Gubernur Jatim Terpilih Khofifah Indar Parawansa dan Cawapres Ma`ruf Amin ini. [ifw/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar