Politik Pemerintahan

Empat Nama Ini Menguat di Bursa Pilwali Surabaya

foto/ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Isu terkait bursa calon Wali Kota Surabaya di Pilwali 2020 saat ini mulai menghangat. Beberapa nama mulai naik ke permukaan dan menjadi bahan perbincangan.

Mulai dari nama Wakil Wali Kota Whisnu Sakti Buana hingga politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dhimas Anugrah digadang-gadang akan berlaga dalam kontestasi demokrasi lima tahunan itu.

Komunitas Milenial Peduli Indonesia (KOMPI), Rabu (12/6/2019) memiliki beberapa usulan soal prasyarat yang harus dimiliki oleh figur Wali Kota Surabaya mendatang.

Ketua Kompi, Nico Makapedua mengatakan bahwa calon penerus estafet kepemimpinan Wali Kota Risma perlu memiliki beberapa kriteria. “Harus memiliki wawasan yang luas, memiliki etos kerja yang dapat dilihat bisa menciptakan budaya kerja yang sempurna, bisa menciptakan kesejahteraan bagi warga, dan berkomitmen melawan korupsi dan intoleransi,” katanya

“Memimpin Surabaya ini tidak mudah. Kultur warganya khas, dan banyak orang ‘well educated’ di kota ini. Oleh sebab itu, calon Wali Kota haruslah orang yang punya wawasan yang luas. Sebab Surabaya perlu inovasi-inovasi kreatif dalam pembangunannya ke depan,” imbuh Nico.

Bagi Nico, Wali Kota mendatang juga harus siap menerima tantangan yang berat. Sebab Surabaya memiliki potensi besar serta masalah yang juga tidak sedikit. “Wali Kota itu beda dengan Kepala Dinas yang urusannya teknis. Wali Kota harus cakap mendelegasikan tugas-tugasnya kepada para bawahannya. Bu Risma sudah berhasil dalam pendelegasian tugas ini,” tegas Nico

“Jadi Wali Kota ke depan ini harus bisa menerapkan sistem kerja dalam teori Jim Collins, yaitu menempatkan orang-orang yang tepat di bidangnya. Seperti yang dilakukan Bu Risma saat ini,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Kompi Dedy Mahendra mengatakan bahwa ada beberapa nama-nama yang dijaring Kompi untuk diberi dukungan pada Pilwali.

“Pertama, Whisnu Sakti Buana (Wakil Wali Kota Surabaya). Nama Whisnu ini menurut kami paling kuat. Selain sebagai Wakil Wali Kota aktif, ia juga Ketua DPC PDIP Surabaya. Hampir pasti mesin politiknya yang paling kuat. Tapi semua kembali ke DPP PDIP saya kira,” katanya.

“Kedua, Dhimas Anugrah (Politisi muda PSI). Dhimas ini namanya melesat seiring naiknya pamor PSI di Surabaya. Dia politisi muda yang brilian ya, kuliahnya di Oxford Inggris, dan didukung arus bawah hingga para pengusaha. Partainya walau masih baru bisa menyabet empat kursi di DPRD Surabaya, ini indikasi kuat bahwa Dhimas dan PSI akan jadi kuda hitam di Pilwali 2020,” sambung Nico.

“Ketiga, Gus Hans (Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional). Gus Hans ini figur politisi muda yang sangat potensial, karena dia cerdas, ahli agama, dan politisi yang punya relasi luas. Secara pribadi saya pikir dia bisa saja memenangkan Pilwali mendatang, asal punya tandem yang tepat,”

“Keempat, Eri Cahyadi (Kepala Bappeko Surabaya). Saya pikir Bu Risma memberi signal mendukung Ery Cahyadi ya. Dalam beberapa kesempatan ia tampil bersama Bu Risma dalam acara-acara penting. Itu bisa jadi pertanda bahwa Bu Risma ingin Ery jadi penerusnya. Ya tapi ini hanya penafsiran pribadi saya saja,” jelas Mahendra panjang lebar. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar