Politik Pemerintahan

Eks Aktivis HTI Jatim: Waspadai Gerakan HTI Berwajah Baru

Mantan aktivis HTI Jatim, Ainur Rofiq al-Amin (Gus Rofiq)

Jombang (beritajatim.com) – Ormas HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) secara resmi memang sudah dibubarkan. Namun demikian, bukan berarti gerakan ormas tersebut berhenti. Organisasi yang mengusung khilafah itu tetap melakukan gerakan bawah tanah dengan memakai ‘baju baru’.

Pendek kata, gerakan orang-orang HTI tetap perlu diwaspadai. Pesan itulah yang disampaikan mantan pentolan HTI Jawa Timur, Ainur Rofiq al-Amin (Gus Rofiq). “Gerakan mereka ingin mengganti Pancasila dengan khilafah. Ini sangat berbahaya,” ujar pengasuh Ribath Al Hadi II, PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang ini, Selasa (9/4/2019).

Gus Rofiq berani mengatakan seperti itu karena dirinya sudah tahu ‘jerohan’ ormas tersebut. Betapa tidak, pada 1993 dirinya pernah aktif di HTI. Bahkan menjadi pengurus inti. Saat itu, tugas Gus Rofiq adalah mencari kader HTI sebanyak-banyaknya.

Dia memiliki tugas bergerilya dari tokoh ke tokoh, untuk mempengaruhi agar mereka mendukung khilafah. Juga menyasar kalangan kampus, termasuk menyebarkan buletin ke masjid guna ‘menjual’ ide. “Saya bergabung sejak masih bernama HT (Huzbut Tahrir). Belum HTI. Kerjaannya ya menjual ide mengganti Pancasila dengan khilafah. HTI selalu berpandangan bahwa sistem NKRI itu kufur,” kata Gus Rofiq.

Karena paham luar dalam soal HTI itulah, Gus Rofiq pernah dijadikan saksi ahli dari pemerintah dalam sidang Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait gugatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terhadap langkah pemerintah mencabut status badan hukum mereka.

“Saya menjadi aktivis HTI sekitar lima tahun. Melalui dinamika yang cukup panjang, akhirnya saya menyadari bahwa langkah yang saya lakukan itu salah. Hingga akhirnya saya kembali ke ‘rumah lama’. Basic saya memang di NU (Nahdlatul Ulama),” ungkapnya.

Gus Rofiq kembali menegaskan bahwa setelah dibubarkan, HTI bisa lebih berbahaya karena mereka menyusup ke mana-mana. Mereka juga bereinkarnasi, misalnya seperti yang terdeteksi oleh polisi Jombang, dalam Komunitas Royatul Islam (Karim).

Sebelumnya memang beredars di media sosial surat berkop Polres Jombang yang menyatakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bereinkarnasi di wilayah Jombang. Surat ditujukan kepada Bupati Jombang, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Cabang, Jombang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Intinya, agar instansi-instansi mewasdai fenomena tersebut.

Dalam surat yang ditandatangani Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto, disebut HTI bereinkarnasi dengan dengan wajah baru. Namanya Komunitas Royatul Islam, disingkat menjadi Karim. Polisi mengendus komunitas ini setelah di media sosial beredar posting soal aktivitas Karim. Postingan aktivitas komunitas Karim ini muncul pada 12 Maret 2019.

Postingan tersebut diambil saat komunitas Karim ini mengadakan kajian di sebuah masjid Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Jombang pada 23 Februari. Polisi mencurigai jika komunitas Karim ini reinkarnasi dari HTI karena dalam aktivitasnya mereka membawa-bawa bendera tauhid mirip dengan yang dilakukan oleh HTI.

“Saya setuju sekali yang dilakukan Polres Jombang. Polisi harus tegas menyatakan reinkarnasi HTI ini berbahaya bagi keutuhan NKRI. Karena gerakan mereka saat ini bawah tanah. Mereka menyusup ke mana-mana. Mereka juga bereinkarnasi,” jelasnya.

Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto membenarkan bahwa surat tersebut memang dikeluarkan oleh lembaganya. Namun demikian, Kapolres enggan memberikan komentar secara panjang lebar tentang adanya dereksi dini HTI yang berwajah baru.

Fadly beralasan, saat ini situasinya mendekati pemilu serentak 2019. Sehingga perlu menjaga kondusifitas. “Dan suratnya juga klasifikasi rahasia. Nanti dibahas usai pilpres saja. Biar situasinya adem dulu,” kata kapolres. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar