Politik Pemerintahan

Doktor Unej Ungkap Kunci Kemenangan Telak Caleg Muda Gerindra

Foto: Muhammad Iqbal

Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, dosen ilmu komunikasi di Universitas Jember, menilai gerakan salawatan adalah kekuatan dan salah satu kunci kemenangan politik elektoral di daerah Pendalungan, seperti Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Iqbal menganalisis kemenangan calon legislator muda Partai Gerakan Indonesia Raya, Muhammad Fawait, dalam pemilu 2019. Fawait memperoleh lebih dari 226 ribu suara di Daerah Pemilihan Jember dan Lumajang. Sebagian besar suara diraih di Jember, yakni 185.938 suara. “Ini rekor tertinggi ketimbang para caleg lainnya di basis masyarakat asimilasi budaya Jawa-Madura atau kerap disebut kultur Pendalungan,” katanya.

“Apa rahasianya? Ada dua perspektif yang saya pakai menjelaskan fenomena kemenangan Gus Fawait. Pertama kualitas komunikasi politik dan yang kedua adalah modal sosial (social capital),” kata Iqbal.

Menurut Iqbal, rekam jejak Fawait terbaca jelas mengombinasikan antara jargon yang familiar khas budaya warga Jemberan dan Lumajangan. Fawait lalu menawarkan pilihan-pilihan kebijakan yang relevan dan signifikan dibutuhkan masyarakat.

“Masyarakat Pendalungan secara ritual dan kultural pada kenyataaannya meyakini salawatan sebagai rutinitas amalan modal jariyah dan ibadah meraih kemuliaan di mata Sang Maha Pencipta. Maka, gagasan slogan “Ojo Lali Moco Sholawat” menjadi pintu masuk yang pas mengakrabi “kebiasaan” atau habituasi masyarakat santri Jemberan dan Lumajangan,” kata Iqbal.

“Bukankah dalam strategi political marketing, kita harus mampu membaca bahwa masing-masing wilayah pemilihan lokal memiliki karakteristik pemilih, konstelasi pengelompokan politik, akar-akar permasalahan politik, sejarah serta kultur politik yang spesifik? Intinya, diperlukan suatu local wisdom untuk mengkonsumsi dan menerapkan sensitizing concepts, atau sensitizing propositions, yang membantu kita menjadi lebih sensitif terhadap apa yang harus dilakukan dan kemudian disesuaikan dengan konteks lokal,” kata Iqbal.

Selain itu, lanjut alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini, pondasi perhatian moral kandidat dituntut tidak hanya berkampanye dengan ‘strategi memenangkan hati publik’, tapi sekaligus juga mampu ‘menenangkan hati publik’. “Pada pintu gagasan inilah Gus Fawait sering mendapat sambutan meriah dari setiap gelaran majelis sholawatan. Memenangkan apa yang jadi ‘kebiasaan’, sekaligus menenangkan hati salah satu basis besar kaum santri di Jawa Timur,” kata Iqbal.

Ini kemenangan awal bagi Fawait. “Selanjutnya menjadi lebih mudah buat Gus Fawait menawarkan dan memahamkan publik tentang pilihan-pilihan kebijakan yang prospektif untuk kemaslahatan masyarakat Jember dan Lumajang. Alhasil, gagasan spiritualitas berbuah kemenangan kapasitas,” kata Iqbal.

Sementara itu, dari perspektif modal sosial, menurut Iqbal, kepercayaan adalah sendi dasar utama, baik dalam hubungan antarpersonal maupun kehidupan bermasyarakat. Mereka yang kehilangan kepercayaan akan sulit berhubungan satu sama lain. “Gus Fawait boleh saja menjadi teladan dalam merawat kepercayaan rakyat. Petahana wakil rakyat di DPRD Jatim ini, terbukti selain tak sekadar terpilih kembali sebagai Wakil Rakyat termuda, juga terpilih lantaran berkarakter ramah atau “grapyak” dengan rekor perolehan suara terbanyak,” katanya.

“Semua modal kepercayaan itu tentu saja bukan lahir tiba-tiba. Tapi hasil perjuangan sejak dipercaya jadi wakil rakyat di DPRD Jatim 2014 hingga terpilih kembali dalam Pileg 2019. Hasil dari kapasitas merawat budaya dan tabiat masyarakat santri asimilasi Jawa-Madura,” kata Iqbal. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar