Politik Pemerintahan

Ditantang Sumpah Mubahalah, Ini Kata Timses Jokowi Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – Tim Kemenangan Daerah (TKD) Jatim untuk Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin menanggapi tantangan sumpah mubahalah dari Badan Pemenangan Provinsi (BPP) Prabowo-Sandi Jatim.

Ketua TKD Jatim, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin mengatakan, orang yang tidak benar jangan diikuti. Menurutnya hal tersebut justru terkesan memancing. “Yang curang itu sana, kok dibolak-balik ceritanya. Kita tahu sendiri di beberapa daerah, siapa yang berbuat curang,” ungkapnya.

Mantan Kapolda Jatim ini menanggapi santai terkait adanya deklarasi dan tasyakuran kemenangan yang dilakukan Badan Pemenangan Provinsi (BPP) Prabowo-Sandi Jatim.

Pihaknya tetap optimistis bahwa perolehan suara Jokowi-Ma’ruf di Jatim tetap unggul. “Biarkan saja kalau mereka melakukan deklarasi dan syukuran menang. Mau syukuran satu minggu tujuh kali itu juga boleh, itu hak mereka. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, yang menentukan kemenangan itu siapa. Memangnya bisa menyatakan menang untuk diri sendiri. Dulu daftarnya di KPU atau di mana?” ujarnya.

Dia berharap agar BPP Jatim tidak asal mengklaim. Menurutnya, ada unsur kesengajaan untuk membangun narasi pada masyarakat. “Dasarnya apa menyatakan menang. Kita ajak buka data bersama nggak mau. Janganlah membangun narasi bahwa di seluruh Indonesia ada kecurangan,” tuturnya.

Machfud mengajak masyarakat untuk mempercayakan hal ini kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Menurutnya kedua lembaga ini sudah bekerja dengan baik. “Jangan terlalu dipermasalahkan, lembaga ini sudah bekerja dengan batasan dan tahapan waktu yang ditentukan,” katanya.

Machfud mengatakan saat ini timnya masih mengawasi penghitungan suara dengan baik dan jujur. “Prinsip kita jangan curang dan jangan dicurangi,” tuturnya.

Sebelumnya diketahui, ulama pendukung Prabowo-Sandi, KH Solachul Aam Wahib (Gus Aam) menantang kubu Jokowi-Ma’ruf, KPU hingga Bawaslu melakukan sumpah mubahalah untuk membuktikan kecurangan. Gus Aam menyebut mubahalah ini tak jauh berbeda seperti sumpah yang dilakukan Sugi Nur Raharja alias Gus Nur belakangan ini.

Namun untuk yang menyumpah, bukan orang sembarangan. Tetapi harus kiai atau ustaz yang ahli di bidang agama. “Dia harus memegang Alquran, dia disumpah, yang nyumpah harus kiai yang mengerti, yang ahli di bidang itu. Bukan sembarangan orang sehingga nanti betul-betul akan menemukan kebenaran,” katanya. (tok/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar