Politik Pemerintahan

Dinas Pariwisata Kota Surabaya Diminta Optimalkan Wisata Sejarah Kota Pahlawan

Surabaya (beritajatim.com) – Julukan Surabaya sebagai Kota Pahlawan sudah sangat lazim didengar. Predikat itu bukan tanpa alasan, tetapi dilatarbelakangi faktor histori yang sangat kuat.

Secara khusus, tanah Surabaya menyimpan memori tak terhapuskan tentang kisah heroik Arek-arek Suroboyo melawan Belanda hingga Jepang dan juga pasukan sekutu.

Terkait tingginya nilai sejarah kota Surabaya, politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dhimas Anugrah mengatakan bahwa Kota Pahlawan adalah sebutan kebanggaan yang bisa meningkatkan semangat patriotisme warga Surabaya.

Oleh sebab itu, Dhimas menganggap sangatlah layak jika Surabaya menjadi kota tujuan wisata sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

“Inggris yang kehilangan dua Brigjennya di Surabaya dalam kurun waktu kurang dari dua pekan di tahun 1945 pernah membuka mata dunia betapa fighting spirit bangsa Indonesia yang semula dikira sebagai bangsa yang lemah ternyata sangat tinggi,” jelas Dhimas.

“Semangat kepahlawanan di masa lalu ini jangan sampai hilang, tetapi justru bisa digunakan untuk menumbuhkan karakter kebangsaan warga, karena dengan mencintai sejarah kota, maka kita akan lebih mencintai negeri,” imbuhnya.

Dengan alasan itu, politisi yang juga sosiolog tersebut mengusulkan agar Surabaya dijadikan Ibu Kota Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Politisi muda PSI yang namanya masuk dalam bursa Pilwali Surabaya ini pun lebih lanjut mengatakan jik Surabaya bisa menjadi pusat kajian sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia

“Sehingga mungkin setiap pengajar sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia perlu belajar dan mendapat sertifikat di Surabaya,” katanya.

“Akan tetapi sekarang tantangan nyata bagi kita adalah narasi kepahlawanan Arek-arek Suroboyo tergerus oleh generasi yang tidak menghargai sejarah. Banyak bangunan bersejarah di kota ini rata dengan tanah satu demi satu dan ada juga yang beralih fungsi. Ini memprihatinkan dan tidak boleh dibiarkan,” tambah politisi yang menempuh studi doktoralnya di Oxford Inggris itu.

Hal yang lain yang menurut Dhimas layak adalah Surabaya turut manpu menjadi kota tujuan wisata sejarah perjuangan kemerdekaan. “Seperti yang tercatat dalam sejarah, berbagai peristiwa penting terjadi di Surabaya pasca Proklamasi Kemerdekaan. Antara lain: “Vlaggen Actie” atau pengibaran bendera secara massal oleh warga Surabaya pada 20 Agustus 1945, lalu sehari setelahnya. Dan juga “Tokubetsu Keisatsu Tai” menyatakan diri sebagai Polisi Negara Republik Indonesia,” paparnya panjang lebar.

“Ada pula, pada 2 September 1945 susunan Badan Keamanan Rakyat Surabaya terbentuk. 19 September 1945 terjadi insiden “Het Vlag Incident” atau peristiwa perobekan bendera Belanda di hotel Yamato di Jalan Tunjungan, dan masih banyak lagi peristiwa sejarah kemerdekaan yang sangat tinggi nilainya di Surabaya,” ujar Dhimas lebih lanjut.

Oleh sebab itu Dhimas mengusulkan agar Dinas Pariwisata Kota Surabaya mengoptimalkan kekayaan bangunan-bangunan bersejarah di kota tersebut sebagai obyek wisata yang dapat menarik banyak wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

“Kita bisa meniru Afrika Selatan yang mengoptimalkan tempat-tempat bersejarahnya sebagai obyek wisata yang mampu menyedot jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia, contohnya penjara di Robben Island yang pernah dihuni oleh Nelson Mandela selama bertahun-tahun,” ungkap Dhimas.

“Di Surabaya kita punya hotel Majapahit, Gedung Pelni, Monumen Pers, dsb yang niscaya bisa menyedot banyak wisatawan jika kita bisa mengelola tempat-tempat bersejarah itu dengan profesional,” pungkasnya Dhimas.

Sementara itu, Ketua Surabaya Politics and Culture Society (SPCS), Heri Si berkomentar bahwa Surabaya sudah seharusnya mengangkat lagi historical value-nya demi citra Surabaya yang sudah lama terkenal sebagai Kota Pahlawan.

“Bayangkan jika Surabaya bisa seperti London, Edinburgh, atau Paris yang bisa menjual wisata sejarahnya. Banyak bangunan bersejarah di kota-kota itu dan Pemerintah setempat berhasil memaksimalkannya sebagai obyek wisata. Saya pikir Surabaya juga bisalah,” kata Heri

“Sebagai anak-cucu para pejuang kemerdekaan di Surabaya, kita wajib melestarikan warisan sejarah, menjaganya, dan mengelolanya semaksimal mungkin. Jangan hilangkan bangunan-bangunan cagar budaya. Biarkan cagar budaya itu bercerita kepada generasi ke generasi akan hebatnya para pendahulu mereka mempertahankan kemerdekaan,” pungkasnya. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar