Politik Pemerintahan

Dhimas Anugrah: Tokoh Muda Bisa Beri Warna Berbeda di Pilwali Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Politisi PSI Dhimas Anugrah optimis jika para tokoh muda bisa membawa warna baru di Pilwali Surabaya. Meskipun, saat ini mereka mendapatkan kritik terkait modal yang dimiliki.

“Tokoh muda memang menjadi perhatian khusus masyarakat dalam banyak aspek akhir-akhir ini, karena banyak anak muda ternyata bisa bekerja sangat baik dan berhasil,” ujar Dhimas.

“Lihat saja pemilik Facebook, Google, Gojek, Tokopedia, Bukalapak, hingga bos NET TV, semuanya orang muda dan berhasil di bidangnya. Jadi kalau fenomena itu berimbas pada tokoh-tokoh muda yang berkiprah di dunia politik saya pikir itu wajar saja,” tambah pria asli Surabaya itu.

Lebih lanjut, Dhimas pun memiliki pandangan jika anak muda identik dengan kreativitas dan inovasi. “Mereka lebih mengenal tren dan semangat zamannya. Apa lagi mereka punya tenaga atau energi lebih yang jadi modal penting dalam berkarya,” pungkas Dhimas yang tengah studi Doktoral di Oxford, Inggris itu.

Sebelumnya, Pakar komunikasi politik asal Unair, Suko Widodo, kepada beritajatim.com, menyebutkan jika tokoh muda di bursa Pilwali Surabaya memiliki beberapa kekurangan besar. “Simplenya kurang modal,” ujarnya.

“Modal yang bagaimana? Berdasarkan riset kualitatif yang pernah saya lakukan, butuh 4 modal penting untuk maju di Pilkada. Apa saja? Modal personal yakni visi misi dan rekam jejak jelas, modal sosial yakni jejaring dengan masyarakat, modal materi untuk logistik kampanye, dan terakhir modal motor partai. Nah, para tokoh muda ini rata-rata kurang modal di modal personal dan sosial. PR besar bagi mereka jika memang ingin serius maju,” tambah pria yang akrab disapa SW ini.

Di sisi lain, pada riset kualitatif yang dilakukan, Suko Widodo menjaring ada beberapa nama yang dianggap cukup punya peluang untuk berada di bursa Pilwali. “Tapi ya itu tadi, modal mereka masih kurang,” tegasnya.

“Siapa saja? Ada Azrul Ananda, Abraham Sridjaja, Dhimas Anugrah, dan juga Gus Hans,” pungkas Doktor lulusan Unair ini.

Sebagai informasi, riset kualitatif itu dilakukan dengan cara melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan berbagai pihak. Nama-nama yang disebut masuk pun mengacu pada pemberitaan di media massa selama 6 bulan terakhir.[ifw/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar