Politik Pemerintahan

Dhimas Anugrah Beberkan Akar Intoleransi Indonesia

Surabaya (beritajatim.com) – Masih maraknya praktek intoleransi di Indonesia saat ini menjadi perhatian banyak pihak. Salah satunya, talkshow bertajuk “Intoleransi di Sekitar Kita” yang digelar di UKWM berusaha menjawab permasalahan itu.

Pada kesempatan ini, sosiolog Dhimas Anugrah mengungkapkan jika tidak bisa dipungkiri Indonesia saat ini layak disebut tengah mengalami krisis intoleransi. Akar permasalahan yang ada sering kali berada di masing-masing individu.

“Intoleransi berakar pada merasa diri paling benar. Merasa agamanya paling benar, sukunya atau rasnya paling baik. Ada rasa insecure jika orang lain tidak memeluk agama yang sama dengan dirinya, dan terkadang ingin memaksa orang menjadi sama dengan dirinya,” ujar Dhimas.

Kondisi itu, menurut politisi muda Partai Solidaritas Indonesia ini, berujung pada terjadinya praktek intoleransi. “Ini melahirkan praktik intoleransi yang efeknya merusak keharmonisan, persekusi atau penganiayaan,” katanya.

Lantas, bagaimana solusinya? Bagi Dhimas boleh dibilang solusinya cukup mudah. Pancasila sudah memiliki semua batasan untuk meniadakan praktek intoleransi. “Penekanan pengajaran Pancasila pada kurikulum pendidikan wajib. Sistem dan penerapan hukum yang ketat oleh Pemerintah,” jelasnya.

“Bertemunya Pak Jokowi dan Pak Prabowo di MRT adalah sebuah simbol dan titik awal rekonsiliasi antara dua kubu anak bangsa yang terbelah ketika Pilpres 2019. Mari kita belajar toleran terhadap orang yang beda agama, suku, ras, dan bahkan pilihan politik dengan kita,” pungkas pria yang santer disebut masuk bursa Pilwali Surabaya 2020 itu. [ifw/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar