Politik Pemerintahan

Daya Rusak Bengawan Solo Hampir Setiap Titik Kecamatan

Bojonegoro (beritajatim.com) – Titik kerusakan tebing Sungai Bengawan Solo hampir ada dan merata di setiap kecamatan yang dilalui, khususnya di Kabupaten Bojonegoro. Puluhan tebing yang rusak karena longsor.

Tebing sungai terpanjang di Pulau Jawa yang longsor itu ada yang mengenai perumahan warga maupun lahan pertanian produktif. Beberapa rumah yang terkena longsor sudah mengungsi.

“Kerusakan ini dulu karena maraknya penambangan pasir ilegal yang menggunakan mekanik,” ujar Operasional dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Hidayat, Sabtu (23/2/2019).

Bantaran Bengawan Solo yang terkikis air ini terutama di bagian tikungan luar. Longsornya tebing Bengawan Solo sebagian besar terjadi saat air surut usai banjir. “Tiap kali longsor bisa sampai satu sampai dua meter,” katanya.

Titik-titik longsor yang parah di daerah hulu, diantaranya Kelurahan Jetak, Desa Ngulanan Kecamatan Dander, Desa Sale, Desa Mojosari, Kecamatan Kalitidu, Kecamatan Purwosari, Desa Kuncen Kecamatan Padangan.

“Antisipasi yang dilakukan salah satunya dengan cara melakukan penertiban beberapa penambang pasir ilegal,” ujarnya.

Karena, lanjut dia, panjangnya sungai sehingga dalam pelaksanaan pembangunan penahan arus hanya bisa dilakukan di beberapa titik. Sehingga, BBWS lebih menekankan pada penertiban penambang pasir ilegal.

Sungai Bengawan Solo sendiri merupakan sungai terpanjang di wilayah Jawa Timur. 77 persen aliran sungai berada di wilayah Jawa Timur, selebihnya di Jawa Tengah.

Selain longsor, daya rusak Bengawan Solo juga dipengaruhi dengan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai masih minim. Sejauh ini, belum ada pemberian sanksi terhadap masyarakat yang membuang sampah di sungai.

“Kami mendorong adanya Perda yang mengatur tentang kesadaran masyarakat tidak membuang sampah di Bengawan Solo,” pungkasnya.

Sementara dalam kesempatannya, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak saat berkunjung ke Kabupaten Bojonegoro mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) memiliki program pengawasan terhadap kebersihan sungai.

“Salah satunya yang sudah ditetapkan di Sungai Berantas. Pemprov memasang CCTV untuk mengawasi masyarakat agar tidak membuang sampah di sungai, dan menempatkan truk sampah di sekitar jembatan,” ungkapnya.

Hal itu dilakukan, karena sampah yang ada di sungai sudah sangat banyak. Akibatnya, ekosistem sungai terganggu. Program tersebut, kata Emil, diharapkan juga bisa diterapkan dengan penyediaan bak sampah di sekitar sungai Bengawan Solo. [lus/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar