Politik Pemerintahan

Bupati Malang Ingin The Jaten Park Kebonsari Jadi Destinasi Wisata

The Jaten Park Kebonsari di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, diharapkan jadi destinasi wisata unggulan, Selasa (24/9/2019).

Malang (beritajatim.com) – The Jaten Park Kebonsari di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, diharapkan jadi destinasi wisata unggulan.

Demikian harapan dari Bupati Malang, HM.Sanusi, Selasa (24/9/2019). Keinginan itu agar tiga program prioritas utama Pemkab Malang, yaitu pengentasan kemiskinan, lingkungan hidup, dan pariwisata bisa berjalan seirama.

Tiga program prioritas tersebut dimanfaatkan oleh Gerombolan Pemuda-Pemudi Ngebruk yang tergabung dalam dalam Komunitas Maju 58 (dibaca Maju Mapan) yang berupaya menggali potensi wisata di wilayah Desa Ngebruk, Sumberpucung.

Kata Sanusi, jika dilihat dari semangat masyarakat desa Ngebruk untuk membangun destinasi wisata sangat luar biasa, hal ini terbukti dengan adanya The Jaten Park, Kebonsari, Ngebruk, Sumberpucung.

“The Jaten Park ini berada di hutan jati milik Perhutani. Masyarakat sini khususnya para pemudanya yang memiliki kreativitas untuk ikut mengembangkan dan menggali potensi wisata,” ungkapnya.

Sanusi mengatakan, pihaknya mendorong bagi seluruh camat untuk ikut serta menjadikan wilayahnya sebagai ruang investasi, dan mencari investor.

“Camat cari investor dan ajak untuk membangun Kabupaten Malang di wilayahnya masing-masing,” tegasnya.

Selain camat, tambah Sanusi, dirinya juga mengingatkan kepada para kepala desa (kades) agar lebih terbuka dan tidak mempersulit proses investasi yang akan masuk.

“Para Kedes hendaknya jangan mempersulit kedatangan investor, atau jangan jaga jarak. La wong Bupati saja terbuka dan siap menerima siapapun yang datang,” ujarnya.

Sementara itu, Penggagas dan Penasihat Komunitas Maju Mapan, Dodit Sugiarto mengatakan, pihaknya terus berupaya menciptakan destinasi wisata diwilayahnya.

“Hutan jati ini awalnya belum disentuh untuk difungsikan. Melihat potensi tersebut, kami berupaya melakukan berbagai koordinasi dengan pihak perhutani untuk menyulap lokasi tersebut menjadi destinasi wisata desa,” ucapnya.

Dodit menambahkan, upayanya pun tidak sia-sia, lantaran pihak Perum Perhutani akhirnya menyetujui usulan pemanfaatan lahan hutan jati tersebut.

“Kami hanya memberikan beberapa sentuhan saja, tidak merubah konsep dari hutan itu sendiri. Hanya memberi pagar, membangun beberapa gazebo, stage panggung dan beberapa hamok serta hiasan lainnya,” urai Dodit.

Terpisah, Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sengguruh, A. Gofur menegaskan, dengan adanya usulan penggunaan lahan hutan jati tersebut merupakan bentuk kerjasama Perum Perhutani dengan masyarakat.

“Hal ini sesuai dengan program Perum Perhutani yaitu Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Tapi tidak merusak hutan,” Gofur mengakhiri. (yog/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar