Politik Pemerintahan

Bupati Anas: Sewa Pulau Tabuhan Gagal, Rakyat Akan Menyesal

Banyuwangi (beritajatim.com) – Rencana Pemkab Banyuwangi mengembangkan Pulau Tabuhan menjadi destinasi kelas dunia masih menuai polemik di tengah masyarakat. Meskipun, pengembangan yang dilakukan dengan menggandeng EBD Paragon itu dinilai akan semakin meningkatkan kunjungan wisatawan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mencontohkan, tren pariwisata dunia menunjukkan kemajuan yang positif. Di antaranya, Dubai, Arab Saudi dan negara timur tengah lain yang tengah membidik pasar pariwisata yang begitu masif. Salah satu yang ditunjukkan adalah munculnya sejumlah brand hotel kelas dunia yang dibawa ke negara tersebut.

“Bahkan Saudi Arabia juga tengah mengembangkan sejumlah brand hotel internasional dibawa kesana, karena sedang dikembangkan 100 kilometer pariwisata di laut merah,” jelas Bupati Anas dalam sebuah kesempatan, Kamis (27/2/2020).

Bahkan, kata Anas, tak jauh dari Banyuwangi ada Pulau Bali yang begitu mentereng dengan sejumlah keunggulan pariwisatanya. Bali, lanjut Anas, juga memiliki brand hotel kelas dunia untuk mengisi posisi amenitas.

“Bali hebat karena bentuk pengembangan di berbagai sektor. Misalnya, Bali punya Four Seasons, Saint Regis di Nusa Dua begitu juga ada Hilton dan seterusnya,” ungkapnya.

Lalu bagaimana di Banyuwangi? Menurut Anas, dalam waktu dekat Pemda berencana melakukan pengembangan Pulau Tabuhan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo. Tapi, hingga kini masih menuai pro-kontra.

“Kita ini baru mau bangun Pulau Tabuhan saja ributnya setengah mati. Ini Paramount mau masuk, Paramount ini group kredible. Orang mau tau ini tinggal klik saja sudah kelihatan. Kantornya di Singapura, pusatnya di Los Angeles Amerika Serikat,”

“Ini juga dipercaya oleh Pak Presiden untuk membangun apa namanya Mandalika. Tapi yang menarik Mister Najih mau mulai di Banyuwangi. Tapi pro-kontra ada demo kira-kira begitu,” terangnya.

Tapi, lanjut Anas, rencana pembangunan ini beberapa kali ditentang. Bahkan, dirinya disebut akan menjual Pulau Tabuhan. “Padahal tidak, kita itu sewa tidak semuanya. Tapi kita lihat nanti hingga akhir bulan masih ada kontroversi ini maka kita akan cut. Rakyat akan menyesal untuk keduakalinya,” ujarnya.

“Dan kalau ini gagal, insya Allah sepuluh tahun belum tentu mendapat investor lagi. Mereka masuk karena percaya kepada kita. Dan dulu seperti di kawasan industri waktu itu banyak demo maka kita cut, karena energi kita tidak hanya untuk mengurusi kawasan industri karena ada pelayanan publik dan lainnya yang mesti kita urus,” pungkasnya.

Sebenarnya, pengembangan Pulau Tabuhan adalah momentum yang layak disyukuri. Di tengah tren perlambatan ekonomi, tetap ada investasi yang tumbuh di Banyuwangi, sehingga bisa memberi dampak positif ke ekonomi masyarakat.

Bahkan disebutkan sebelumnya, skema penyewaan Pulau Tabuhan sama dengan skema penyewaan Bandara Banyuwangi kepada pihak BUMN PT Angkasa Pura (AP) II. Hal ini sekaligus juga sebagai upaya untuk menyelamatkan luasan pulau yang semakin berkurang akibat abrasi. Luasan Pulau Tabuhan saat ini hanya sekitar 5,3 hektar, padahal pada tahun 2001 luasan pulau tersebut sebesar 7 hektar. [rin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar